Kagum Kemajuan Tiongkok, Kiai dari Singosari Tempuh S3 di Jilin University
KH Imron Rosyadi

MALANGTODAY.NET – Kalangan santri didaerah Singosari, Kabupaten Malang, mungkin sudah tidak asing lagi dengan sosok KH Imron Rosyadi. Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ishlahiyah ini mungkin bisa dikatakan, satu-satunya orang pesantren yang menempuh pendidikan S3 di luar negeri. Seperti apa kisahnya?

Tuntutan menjadi seorang dosen dan untuk meningkatkan kualitas pengajar membuat beliau memang harus menempuh pendidikan S3. Berawal dari tawaran Direktur Wahid Institut Yenny Wahid, beliau dimotivasi agar segera menempuh program PhD di luar negeri. “Waktu itu saya konsultasi dengan Mbak Yenny, dan beliau bilang kalau saya mengajar dikampus ya harus S3,” ungkap Kiai lulusan S1 Unisma itu.

Dari situlah Imron bertekad untuk kuliah di Tiongkok, meskipun awalnya Yenny Wahid menyarankan untuk kuliah ke Australia atau Amerika. “Saya bilang ke Mbak Yenny, saya ingin ke China (Tiongkok). Mbak Yenny kaget, kok saya memilih China. Padahal banyak orang ingin ke Amerika sama Australia,” katanya.

Namun, Kiai berusia 45 tahun itu menyampaikan alasannya yang lebih memilih Negeri Tirai Bambu itu sebagai tempat menimba ilmu dibandingkan kedua negara itu.

“Saya bilang kalau ke Amerika sama Australia, sudah banyak menjadi tujuan pelajar Indonesia. Kita selama ini kan tidak pernah belajar tentang bagaimana Cina itu kemudian menjadi super power baru di dunia dan kini menjadi The Rising Super Power, dan kalau kita ke Amerika atau Australia, saya kira sudah banyak yang belajar itu. Tapi kita (bangsa) juga penting mempelajari bagaimana Cina bisa secepat ini merubah, dari yang negera yang tidak diperhitungkan menjadi diperhitungkan. Deng Xiao Ping itu kan membuka China dari tahun 1978, dan hasilnya hari ini kita bisa rasakan, bahwa Cina telah menjadi raksasa ekonomi dunia. Nah, saya berfikir, Indonesia itu kan merdeka mulai tahun 1945, tapi hari ini kan kita masih terseok-seok dalam banyak hal, tidak hanya ekonomi. Harusnya, kita belajar juga bagaimana negara-negara lain itu membuat sebuah kebijakan yang mampu merobah secara drastis dari yang sebelumnya dalam posisi dibawah, menjadi diperhitungkan oleh negara lain.” Beber dari Annisa Mahfud itu.

Singkat cerita, dari cita-citanya itulah, akhirnya beliau mengajukan aplikasi ke beberapa penyedia beasiswa internasional. Dan akhirnya bisa lolos ke Jilin University, di kota Changcun, North East China dan mengawali semester pertamanya pada September 2016 lalu. Ketika lulus dari Cina nanti, beliau sudah mempunyai angan-angan untuk memajukan pendidikan di Kabupaten Malang. Untuk itu, beliau menerima tawaran mengajar di kampus Universitas Raden Rahmat (Unira) Malang.

“Saya diminta ngajar di Unira oleh pak hanif, dan saya ndak mungkin menolak. Karena saya anggap kabupaten Malang ini wilayahnya nomer 2 terbesar di Jawa, sementara kampusnya belum ada. Karena dia (Unira) menjadi yang pertama, maka saya lebih tertarik untuk mengembangkan pendidikan di daerah (kabupaten), karena dari sisi jumlah penduduk yang besar,” kata lulusan S2 Universitas Indonesia (UI) itu.

Kiai kelahiran Malang itu juga mengatakan bahwa tingkat kesenjangan pendidikan antara di desa dengan kota itu cukup tinggi, apalagi beliau mempunyai alasan yang paling mendasar untuk memajukan Nahdhatul Ulama (NU).

“Mayoritas NU itu ada di desa-desa, kalau kita ingin mengembangkan NU itu sebetulnya dari sisi pendidikan. Kita harus mampu memindahkan center of excellent itu dari pusat kota ke daerah pinggiran, supaya ada pemerataan.” tambah ayahanda dari Alan Nafish dan Alan Nasir itu.

Sebelum menempuh pendidikan di Tiongkok, Kiai berusi 45 tahun ini mempunyai aktifitas sehari-hari yakni mengajar di Yayasan Al-Ishlahiyah, yang merupakan lembaga pendidikan yang didirikan mertuanya yakni Kiai Mahfud. Selain itu juga berstatus sebagai dosen program studi ekonomi politik di Unira Malang.⁠⁠⁠⁠

Berikan tanggapan Anda

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here