Tinggal di Pesisir, Semangat Petani Cabai Sumberblimbing Tak Surut
Ilustrasi cabai merah besar dan rawit yang dijual pedagang di Pasar Besar Kepanjen (Dhimas)

MALANGTODAY.NET – Wilayah pesisir Kabupaten Malang yang gersang tidak menyurutkan semangat para petani cabai merah keriting di Dusun Sumberblimbing, Desa Sidodadi, Kecamatan Donomulyo.

Beragam cara dilakukan petani agar mereka tetap bisa panen, terlebih seperti musim kemarau sekarang, air untuk lahan pertanian akan sangat sulit didapatkan. Dari total 120 hektar lahan pertanian yang ada, saat musim kemarau seperti saat ini, yang bisa dimanfaatkan hanya seluas 40 hektar saja.

Baca Juga: Artis Reza Bukan Jalani Sidang Tanpa Pengacara, Tak Mampu Bayar?

Yang patut diapresiasi, di tengah keterbatasan air dan lokasi yang berada di pesisir, namun petani di Sumberblimbing masih mampu menghasilkan cabai keriting cukup melimpah untuk dipasarkan.

“Dari 40 hektar itu masih mampu produksi kurang lebih 15 ton per hektar. Lahannya pun dialiri air payau,” kata Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Malang, Budiar Anwar, Kamis (1/11/2018).

Lebih jauh, musim kemarau yang belum juga berakhir ternyata membawa cukup keberuntungan bagi petani cabai keriting di dusun tersebut.

Beberapa hari lalu, harga cabai keriting di sejumlah pasar di Jakarta menembus angka Rp 45 ribu per kilogram. Namun, saat ini sudah berangsur-angsur turun.

Meski sudah berangsur turun, harga cabai keriting yang sempat melonjak tinggi itu juga sempat dirasakan keuntungannya oleh petani di Sumberblimbing. Pasalnya, selama ini mayoritas hasil panen cabai rawit disana dikirim ke sejumlah pasar di Jakarta.

Baca Juga: Hadapi Bencana Alam, Polres Malang Hadirkan Tim Satgas Bhayangkara

Saat ini, harga cabai rawit sudah berkisar pada angka Rp 27 ribu per kilogram. Turunnya harga cabai tersebut dikarenakan pasokan dari petani yang mulai stabil.

“Musim kemarau seperti ini membuat kondisi tanaman cabai relatif bagus. Biasnya masyarakat disana menanam tembakau dan kelapa sawit,” terang Budiar.


Reporter : Dhimas Fikri
Editor : Kistin Septiyani

Loading...