Ketua LP Ma'arif Kabupaten Malang, Dr Hasan Abadi SAg MAP. LP Ma'arif mengusulkan agar ada mata pelajaran Aswaja di setiap sekolah (Instagramhasanabadi999)
Ketua LP Ma'arif Kabupaten Malang, Dr Hasan Abadi SAg MAP. LP Ma'arif mengusulkan agar ada mata pelajaran Aswaja di setiap sekolah (Instagram hasanabadi999)

MALANGTODAY.NET – Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Malang mengusulkan agar ajaran Ahlussunah Waljamaah atau Aswaja bisa dimasukkan sebagai mata pelajaran anti radikalisme di sekolah-sekolah.

Ketua LP Ma’arif NU Kabupaten Malang, Dr. Hasan Abadi, S.Ag., M.A.P. menjelaskan bahwa sejumlah sekolah atau madrasah di lingkungan NU telah menerapkan mata pelajaran Aswaja. Menurutnya, penerapan mata pelajaran tersebut terbukti jitu.

Baca Juga  Soal Bosda di Kabupaten Malang, LP Ma'arif Beri Dukungan Penuh

“Pemerintah melalui Kemendikbud dan Kemenag bisa mengadopsi keberhasilan Nahdlatul Ulama dalam membentuk, menguatkan, melestarikan sikap, pikiran dan perilaku moderasi serta anti radikalisme dengan mengambil kebijakan untuk memberikan tambahan mata pelajaran tersebut di lingkungan sekolah atau madrasah baik secara wajib, pilihan maupun ekstra,” kata Hasan, Senin (11/2/2019).

Pria yang juga menjabat Rektor Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang ini menyampaikan, jika pemerintah pusat tidak dapat langsung menerapkan mata pelajaran Aswaja di sekolah-sekolah, paling tidak masing-masing pemerintah daerah bisa diberikan keleluasaan untuk menerapkan mata pelajaran tersebut.

“Setidaknya, pemerintah daerah diberikan peluang untuk bisa bebas memberikan mata pelajaran Aswaja tersebut melaui dinas atau instansi terkait,” ungkapnya.

Baca Juga  Mudahkan Masyarakat dalam Berinvestasi, BEI Kembali Resmikan Galeri Investasi

Lebih jauh, mantan Ketua Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Malang itu mengatakan, munculnya paham radikalisme lebih dikarenakan kurangnya pengetahuan. Melihat kondisi itu, Hasan menilai, bahwa perlu adanya edukasi terkait paham radikalisme sejak dini atau di bangku sekolah.

“Sebagai wujud nyata untuk menyemai moderasi, wasathiyyah, anti radikalisme di Indonesia, maka perlu mata pelajaran yang bisa secara khusus. Radikalisme yang mengarah pada kekerasan seringkali muncul karena kurangnya pemahaman atau kurangnya pengetahuan,” pungkasnya. (DHI/AL)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.