KKN 20 UMM Adakan Dialog Demi Wisata Kampung Enem Yang Lebih Baik
Peserta Seminar Pengelolaan Wisata Desa di Patokpicis, Dampit, Kabupaten Malang @KKN 20 UMM for MalangTODAY

MALANGTODAY.NET – Wisata desa merupakan salah satu aspek penunjang untuk meningkatkan produktivitas warga desa. Pentingnya wisata berbasis desa memerlukan pengelolaan yang sifatnya berkelanjutan demi menghasilkan kualitas desa yang baik.

Maka dari itu, tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) 20 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui Divisi Sosial Budaya mengadakan Seminar Pengelolaan Wisata Desa, Sabtu (28/7) lalu. Seminar ini bertujuan untuk meningkatkan potensi wisata desa bernama Wisata Kampung Enem (Wiken) yang terletak di Desa Patokpicis, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang.

Baca Juga: Gandeng Perhutani, KKN UMM Tanam Bibit Kesambih di Desa Argosari

Seminar ini dihadiri oleh Tekad Andianto selaku Asisten Perhutani Badan Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Dampit. Acara ini mempertemukan tiga belah pihak yang terlibat dalam pengembangan Wiken, yaitu Perhutani, tim KKN 20 UMM, dan warga Desa Patokpicis. Penggandengan Perhutani dinilai relevan mengingat keadaan dan potensi Wiken yang sebelumnya sudah terkenal namun mengalami penurunan kondisi.

Dalam diskusi ini, masyarakat diajak untuk mengenali fungsi dan peran Perhutani dalam pengelolaan desa wisata yang berkelanjutan. Tekad selaku pembicara dari pihak Perhutani memberikan tiga materi pokok yang diharapkan dapat menjadi solusi permasalahan di Wiken.

Kepala Desa Patokpicis, Sholik, mengakui bahwa kondisi Wiken dinilai kurang terawat dan membutuhkan rehabilitasi segera. Hal ini segera ditanggapi dengan positif oleh Tekad yang membeberkan bahwa Perhutani memiliki misi kepedulian yang tinggi pada kepentingan masyarakat dan lingkungan hidup.

Peran BKPH Demi Peningkatan Kualitas Wiken
Tekad Adiyanto memaparkan materi di Seminar Pengelolaan Wisata Desa @KKN 20 UMM for MalangTODAY

Perlu diketahui bahwa BKPH memangku lingkup tugas jasa lingkungan. Bidang ini membahas seputar prosedur-prosedur pembuklaan kawasan rintisan. Salah satu yang menjadi perhatian Perhutani pada Wiken adalah potensi tanah hutan untuk dijadikan wisata petik buah.

“Segala hal mengenai pengelolaan potensi yang ada dalam kawasan milik Perhutani tidak bisa direhabilitasi atau dialihfungsikan namun lebih tepatnya dikembangkan dan mungkin ditambah dengan 80% wisata petik buah, alpukat misalnya,” ujar Tekad menambahkan.

Baca Juga: KKN 67 UMM Gelar Donor Darah di Alun-alun Kota Probolinggo

Tak berhenti sampai di situ, Tekad mencontohkan salah satu keberhasilannya merintis wisata desa B-29 di Lumajang. Konsep wisata petik buah dan produksi batik yang diterapkan di sana telah berjalan dengan baik dan memberi hasil yang memuaskan. Hal itu yang ingin diterapkan di Wiken. Adapun untuk tata kelolanya nanti akan didiskusikan lebih lanjut dengan pihak-pihak berwenang seperti LMDH, Kepala Desa, dan Pokdarwis.


Penulis : Raka Iskandar
Editor : Raka Iskandar