Gus Thoriq, Pernah Dianggap Gila karena Gagas Hari Santri Nasional
Gus Thoriq (tengah) saat sedang bersama tamunya di Ponpes Babussalam (Dhimas)

MALANGTODAY.NET – Tanggal 22 Oktober diperingati sebagai Hari Santri Nasional. Taukah kalian, jika penggagas Hari Santri Nasional berasal dari Malang? Dia adalah KH Thoriq Darwis bin Ziyad atau yang akrab disapa Gus Thoriq, mungkin sudah tidak asing lagi bagi sebagaian masyarakat Malang.

Pencetus Hari Santri Nasional tersebut juga merupakan pengasuh Pondok Pesantren Babussalam Banjarejo Kecamatan Pagelaran. Kepada MalangTODAY, Gus Thoriq berkisah bahwa dirinya pernah dianggap gila karena ingin mewujudkan Hari Santri Nasional.

“Saya pernah dianggap gila karena mempelopori ini (Hari Santri Nasional), karena ini dianggap mustahil direalisasikan. Karena katanya masih ada kyai yang lebih tinggi, spontan kami jawab tidak ada kyai yang mengaku mantan santri,” ucap Gus Thoriq sembari tertawa, Minggu (22/10).

Gus Thoriq mengatakan bahwa awal mula ide tersebut muncul pada tahun 2009. Menurutnya, filosofi Hari Santri adalah persatuan.

“Karena banyaknya berbagai macam Pondok Pesantren mulai ditunggangi kepentingan, atas dasar kepedulian itu jadi kami berinisiatif untuk mempelopori ini,” imbuh Alumni IAIN Malang (sekarang UIN Malang) itu.

Lebih lanjut, pria ramah ini menambahkan sebenarnya Hari Santri selalu di peringati pada 1 Muharram, hal tersebut sudah menjadi tradisi turun menurun di Ponpes Babussalam. Namun, melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015, Hari Santri Nasional ditetapkan pada 22 Oktober.

“Seumpama kita ini menggiring bola, kita yang umpan dan Pak Jokowi yang bikin gol,” bebernya.

Penetapan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober juga di dasari pada tahun 1945 silam, para kyai dan ulama di bawah komando Kyai Hasyim Ashari mengadakan musyawarah yang wajib untuk melawan penjajah yang disebut sebagai resolusi jihad.

Gus Thoriq (2)
Gus Thoriq (tengah) saat sedang bersama tamunya di Ponpes Babussalam (Dhimas)

“Itu adalah tradisi hormat yang ditanamkan oleh kyai kepada muridnya. Harus hormat kepada guru, buku dan ilmu pengetahuan,” jelas Gus Thoriq.

Gus Thoriq berharap kedepan ada sebuah departemen khusus yang membawahi santri, mengingat santri juga merupakan kearifan lokal yang di punyai bangsa Indonesia.

“Kalau santri ini kepanjangan bebasnya insan taat Republik Indonesia. Jadi jangan suruh santri ini membela NKRI, karena santri ini pada dasarnya sudah memiliki itu,” tegasnya. (Mas/ind)