Semeru

MALANGTODAY.NET – Indonesia memang eksotis, dimana rata-rata wilayah geografisnya dikelingi penggunungan. Salah satu yang paling eksotis ialah puncak tertinggi di jawa, yakni Gunung Semeru yang mempunyai banyak spot menawan, salah satunya Ranukumbolo yang berupa danau ditengah-tengah gunung.

Sayangnya ditengah gunung Semeru yang eksotis ini, gunung Semeru  kembali menelan korban. Kabar ini menambah daftar kematian yang terjadi oleh pendaki gunung semeru. Kejadian naas itu dialami oleh Sahat M. Pasaribu, warga Depok yang berusia 23 tahun itu menghembuskan napas terakhirnya pada waktu pendakian ke Kalimati.

“Dari laporan yang kami terima, dia meninggal karena sakit,” ujar petugas Polisi Hutan Balai Besar TNBTS, Joko Puruwito alias Glemboh, Sabtu(8/10).

Glemboh menjelaskan, pelapor kejadian adalah Luki Prasetia, 26 tahun, rekan korban yang beralamat di Jalan Raya Pondok Gede 53, RT 04 RW 08, Cipayung, Jakarta Timur.

Kematian pria 23 tahun ini menambah panjang daftar kematian yang ada di puncak tertinggi jawa tersebut.

Sahat menjadi pendaki ketiga yang meninggal sepanjang 2016 dan kematian itu terjadi dalam tempo kurang dari sebulan. Penyebab kematian mereka pun hampir sama, yakni sakit.

Sebelumnya, Chandra Hasan, 33 tahun, pengunjung dari Kampung Pengarengan, RT 004 RW 012, Kelurahan Jatinegara, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, Senin, 3 Oktober 2016.

Seorang lagi meninggal pada 13 September atas nama Zimam Arofik, warga Jalan WR Supratman 123, RT 005 RW 012, Kelurahan Panjang Wetan, Kecamatan Pekalongan Utara. Selain tiga peristiwa kematian, seorang pendaki asing hingga kini belum ditemukan dan dua orang pengunjung asal Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, sempat tersesat lima hari. Pendaki asing yang belum ditemukan bernama Lionel du Creux, warga negara Swiss. Dia dilaporkan hilang pada 7 Juni lalu. Ia mendaki bersama teman perempuannya yang berkebangsaan Prancis, Alice Guignard.

Pencarian yang dilakukan sepanjang 8-18 Juni tidak membuahkan hasil sehingga pencarian resmi pun ditutup. Sedangkan pengunjung yang tersesat bernama Zirli Gita Ayu Safitri, 17 tahun, dan Supyadi, 27 tahun. Keduanya sama-sama berasal dari Cirebon. Gita berasal dari Desa Bojongkulon, Kecamatan Susukan. Sedangkan Supyadi beralamat di Blok 4 Tegal Lempuyangan Lor, Tegal Gubug. Mereka tersesat selama lima hari dari 20 Mei dan ditemukan dalam kondisi sangat lemas di kawasan air terjun Gunung Boto, Desa Tawon Songo, Desa Pasrujambe, Lumajang.