JPI, Gerakan Pemuda Dari Malang Untuk Indonesia

MALANGTODAY.NET – Jejak Pengabdi Indonesia (JPI) merupakan sebuah komunitas Non Government Organization (NGO) yang bergerak di bidang sosial-pendidikan, khususnya bagi anak-anak panti asuhan yang belum tersentuh perhatian pemerintah. JPI dirikan pada 2 Oktober 2016 atas inisiatif 3 orang pemuda, kemudian berkembang menjadi 20 orang sebagai tim inti.

Latar belakang terbentuknya JPI berawal dari kerisauan seorang pemuda bernama Bagus Detrianto terhadap realitas pendidikan yang ada di Indonesia, khusunya Kota Malang, dimana masih banyak aspek-aspek pendidikan yang belum tersentuh oleh pemerintah. Untuk itu, dirasa sangat perlu adanya gerakan-gerakan kepemudaan yang bergerak untuk mengatasi masalah ini sebagai upaya membantu pemerintah dalam menjalakan tugasnya.

“Kita ini membantu peran pemerintah kota maupun daerah atau bahkan negara untuk  pemerataan kualitas pendidikan”, ungkap Founder JPI, Bagus Detrianto.

Untuk program JPI ini sendiri, secara garis besar ada 3 program utama yang tidak jauh dari dunia sosial-pendidikan. Pertama, bakti sosial yang diadakan di panti asuhan dan kepada perseorangan yang dirasa membutuhkan uluran tangan. Kedua, Voluntering program, program mengajar di panti asuhan atau pondok yang baru merintis selama 1 bulan. Ketiga, kegiatan-kegiatan pendidikan yang dikemas dalam bentuk seminar nasional, talk show maupun pameran pendidikan.


JPI berharap dengan keberadannya, mampu sedikit meringankan beban pemerintah dalam pemerataan kualitas pendidikan, hal ini dikarekan dengan kualitas pendidikan yang merata otomatis Bangsa Indonesia semakin maju.

“Harapan kami hanya satu, kami harap sedikit membantu pemerataan kualitas pendidikan di Indonesia. Jika kualitas pendidikan sudah merata, SDM sudah merata, Indonesia pasti lebih makmur untuk tahun-tahun berikutnya”, ujar pria kelahiran asal Sidoarjo ini.

Tim JPI mengajar di Pondok Anak Yatim Salman, Gasek, Malang

Bagus Detrianto, berpesan kepada pemuda-pemuda yang ada di Kota Malang untuk tidak menutup mata dan bersifat egois dengan keadaaan sosial yang ada disekitar kita.

“Jangan menutup mata keadaan sosial yang ada, bahwasanya kita tidak boleh egois memikirkan diri kita sendiri, kita harus peka”, tutur mahasiswa UIN Malang ini.

Berikan tanggapan Anda

Komentar Anda

Balas

Please enter your comment!
Please enter your name here