Malangtoday.net – Kasubbag TU Taman Hutan Raya (Tahura) R. Soeryo, Agustina Tangkelo, memaparkan, Pemanfaatan air di kawasan konversi Tahura ada dua macam yakni komersial dan non komersial. non komersil adalah pemanfaatan air untuk kepentingan masyarakat dan sosial sedangkan komersil adalah air yang digunakan untuk dijual lagi atau diolah kembali seperti PDAM yang dijual lagi atau air yang dialihkan ke hotel yang memberikan keuntungan kepada hotel.

Sedangkan Himpunan Penduduk Pengguna Air Minum (HIPPAM) dikatakannya, bukan komersil karena mengatasnamakan dan dikelola secara mandiri oleh masyarakat.

“Melalui HIPPAM, Air ditampung dan didistribusikan kepada masyarakat dan dikelola mandiri oleh masyarakat,” katanya disela sela acara Lokakarya Pemerintah, Swasta dan Lembaga Swadaya masyarakat bersatu melestarikan Air di DAS Brantas di Jambuluwuk Hotel and Resort Kota Batu, Selasa (4/10).

Namun ia menegaskan, kalau di HIPPAM  ditemukan unsur komersil, ke depannya pihaknya akan mengevaluasi dan menertibkan hal tersebut. Mengenai  pipa tak berijin yang masuk ke kawasan konservasi, ia akan menertibkan pipa tersebut.

“Sementara ini kami masih menertibkan saja supaya mereka mempunyai tanggung jawab sosial. Kami memang sekarang fokus pada pengamanan dan konservasi. Kalau diatas atau dihutan itu aman dan terkonservasi maka airnya  atau sumber airnya akan tetap stabil dan banyak,” tandasnya.

Ancaman keamanan yang mengganggu debit Sumber Mata Air, dikatakannya,sejauh ini dikawasan Tahura masih dirasa aman. Karena petugas Pengaman Hutan kerapkali berpatroli di kawasan kawasan sumber air.

“Kadang ada warga mengambil rebung bambu atau mencuri kayu tetapi sekarang sudah aman. kadang juga ada masyarakat yang membuang puntung rokok. Kadang ada menamakan diri  pecinta alam tetapi mereka tidak mematikan api unggun ketika pergi, membuang sampah  sembarangan di hutan. hal seperti itulah yang di patrol oleh teman-teman pengaman hutan sampai saat ini, ” urai Agustina.

 

Berikan tanggapan Anda

Komentar Anda