MALANGTODAY.NET – Baper? Kata ini ternyata tidak hanya pas buat gambarin kalian yang lagi ada masalah dengan pacar dan dosen aja ya. Tapi ternyata, kata ini juga bisa dikaitkan dengan kalian yang tidak kenal dengan namanya politik loh.. Kenapa begitu? Ini pemaparan dari Presiden BEM UIN Maulana Malik Ibrahim, Muhammad Hasan Abdillah.

Menurut Hasan, berkecimpung di dunia politik seperti sekarang ini tidak mudah dan tidak susah. Ritme perpolitikan di dalamnya selalu berbeda, dan tidak jarang membuat kaula muda merasa baper. Akibatnya, anak muda pun cenderung apatis dengan politik, dan selalu asyik dengan dunianya sendiri. Individualisme tinggi, dan sudah tak ada lagi yang namanya perjuangan dan persatuan.

“Anak sekarang gampang baper, nggak tahu dogmanya itu muncul dari mana?,” katanya sembari tertawa.

Berdasarkan pengamatannya, pemuda yang awam terhadap politik sebagian memang dikarenakan sudah tergerus alur modernisasi. Karena mereka tidak memiliki benteng yang kuat untuk memerangi arus itu. Parahnya lagi, saat ini dogma baper mulai mewabah dalam fikiran mereka.

Mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Arab ini menyebutkan, terjun dalam politik membutuhkan keberanian dan sifat mau berjuang. Sementara mereka yang tidak mau berjuang dan takut susah, biasanya cenderung apatis. Selain itu, faktor utamanya juga karena mindset yang sudah terbangun, dan cenderung memandang sebelah mata dunia politik.

“Politik selalu dianggap kotor, anak muda sekarang lebih disibukkan dengan dunia fashion. Alur grubyuk dan ikut-ikutan saja, tidak ada pendirian,” terangnya.

Sifat apatis yang terus memasuki fikiran anak muda itu, lanjutnya, berpengaruh pada kemerosotan nilai politik di Indonesia. Tidak jarang pula, menjadikan anak muda sebagai korban dari dunia politik itu sendiri.

Menurutnya, politik terbentuk atas dua korelasi, petama individu dan kedua adalah sistem. Ketika seorang individu terjun di dalam dunia politik dengan tujuan yang salah, maka ia akan memanfaatkan jabatannya untuk mendapat apa yang diinginkan. Ini berarti, letak kesalahannya bukan pada sistemnya. Itu sebabnya, sering terjadi kesalah pahaman dalam memandang politik.

“Memang ada individu yang sengaja memperjual belikan kursi politik, dan ini yang harus diperangi. Caranya ya harus sadar politik,” tambahnya.

Hasan menyebutkan, setiap anak muda harus berani maju mengisi kekosongan dunia politik. Ketika mereka tahu ada yang salah, sepantasnya mereka membenahi dan meluruskan yang salah.

“Jangan malah baper dan mundur,” urainya.

Di sisi lain, kesalahan paling mendasar dalam kasus ini adalah sempitnya jalan mengakses politik bagi pemuda dalam perpolitikan. Berbagai program pemerintah hingga kebijakan yang dikeluarkan tidak satupun yang mengarah dan menyentuh anak muda. Sehingga, tak heran jika dengan pemahaman yang kurang itu ritme politik terus berubah dengan problem yang sama.

“Kalau anak mudanya tidak dilibatkan sejak dini, lalu bagaimana dengan kebijakan hari ini yang akan dilakukan sepuluh atau dua puluh tahun kemudian, pasti tidak akan direalisasikan secara maksimal. Karena pemahaman kebijakan yang dibuat hari ini pasti akan jauh berbeda, jika tidak dipahamkan hari itu juga. Sementara sepuluh atau dua puluh tahun lagi, pemegang kebijakan akan berganti dengan regenerasi baru,” paparnya.

Dengan problem yang komplek itu, pria asal Kota Batu ini menekankan agar para anak muda dari berbagai kalangan, utamanya mahasiswa untuk lebih berani menentukan sikap. Berani memasuki dunia politik dan mengetahui sendiri alur yang ada di dalamya, dan turut membenahi jika ada yang salah. Semua dapat dimulai dari jenjang yang paling rendah, politik kampus.

“Terutama bagi mahasiswa baru, mbok yao kalian itu paham bahwa sudah menjadi mahasiswa, jangan terlena dengan status lama sebagai siswa. Lebih mandiri dan berani menentukan sikap,” tutupnya.

Berikan tanggapan Anda