MALANGTODAY.NET – Keberadaan media sosial nampaknya berpengaruh pada model pendidikan di Indonesia. Tak hanya bagi kalangan anak usia sekolah, tapi juga para ibu dengan peran dominannya dalam organisasi keluarga.

Pakar KomunikasI Universitas Brawijaya Malang, Megasari Noer Fatanti menyebutkan, porsi penggunaan media sosial saat ini sangat mendominasi. 50 persen masyarakat di Malang, terutama kalangan ibu-ibu bisa dikatakan sangat addict dengan keberadaan informasi yang diperoleh dari media sosial. Bahkan, mereka cenderung percaya tanpa mencari tahu lagi sumber yang lebih terpercaya.

“Di sisi lain media sosial memang sangat bermanfaat untuk pendidikan, tapi penggunaan yang berlebihan tentu sangat tidak bagus,” katanya.

Kecenderungan terhadap media sosial ini, lanjut Mega, sangat rentan terhadap pola komunikasi yang terjalin antar keluarga maupun masyarakat pada umumnya. Karena sisi baik dan buruk tidak dapat difilter dengan baik, akibat pemahaman yang masih kurang.

Melihat fenomena ini, pemerintah menurutnya diharapkan agar bisa menerapkan gerakan literasi pendidikan. Terutama bagi perguruan tinggi yang menaruh konsentrasi pada bidang komunikasi, agar memberi penerapan yang benar terkait pendidikan dan penggunaan media sosial ini.

“Pembatasan porsi penggunaan medsos saya rasa belum efisien. Perlu dilakukan literasi nyata bagi masyarakat,” tambahnya.

Tak hanya media sosial, fenomena lain yang juga sangat berpengaruh pada pola fikir masyatakat adalah tayangan media visual atau TV. Berdasarkan penelitian yang ia lakukan di tahun lalu, tepatnya di daerah Ketawang Gede, tayangan dalam media TV tak jarang membuat ibu-ibu melupakan kewajibannya.

“Contoh kecilnya saja, mereka memilih menonton acara Utaran dibanding harus menemani anaknya mengerjakan PR. Fenomena ini terjadi saat tayangan Utaran tengah buming,” jelas Mega.

Selain menyita waktu, tren yang berkembang akibat dari fenomena itu menurutnya juga sangat berpengaruh pada gaya hidup masyarakat. Pasalnya, masyarakat Indonesia pada umumnya sangat rentan dengan hal baru, tanpa memilahnya terlebih dulu.

“Masyarakat dengan pendidikan SMA ke atas cenderung bisa memfilter, tapi di bawah itu, sangat jarang,” pungkas perempuan ramah ini. (pit/ind).

 

Berikan tanggapan Anda

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here