MALANGTODAY.NET Meskipun kental terjadi di lingkungan remaja, namun ternyata tak sedikit juga kasus bullying yang terjadi di ranah sekolah dasar. Salah seorang guru di SD Muhammadiyah 09 Malang, Dhika Dwi Janiati S.Psi menjelaskan bahwa tiap satu sehari sekali selalu ada seorang anak yang lapor akibat menjadi korban bullying secara verbal.

Rata-rata korban yang melaporkan kejadian bullying adalah murid kelas 3 ke bawah. Biasanya laporan akan datang dari guru kelas atau orang tua murid. Untuk rentang usia tersebut, memang sang anak masih belum bisa menentukan apakah peristiwa yang dialami termasuk tindakan bullying atau bukan.

Baca Juga: Mengenal Cyberbullying, Intimidasi Dunia Maya yang Begitu Mengerikan

“Rata-rata memang dari anak kelas 3 ke bawah. Laporan datang dari guru kelas atau orang tua karena dari anaknya sendiri masih belum bisa menyampaikan; ini tindakan bully atau bukan,” kata Dhika.

Untuk penanganan terhadap kasus bully sendiri, Dhika menyesuaikan kondisi dan kelompok umur para siswa. Mulai dari kelas 4 ke atas dianggap sudah mulai mengerti tentang mana tindakan yang tergolong menyakiti perasaan korban dan mana yang bukan.

Maka dari itu, menurut Dhika akan dilakukan penanganan cukup tegas bagi kelompok siswa kelas 4 ke atas. Peringatan tersebut dapat berupa peringatan hingga konsekuensi yang harus ditanggung murid terkait hingga merasa jera.

Lebih lanjut Dhika mengatakan bahwa bentuk bully verbal adalah yang paling sering terjadi di lingkungan sekolah dasar. Menurut Dhika, menangani kasus ini harus dilakukan secara komprehensif. Tidak bisa hanya memutus rantai dengan memperhatikan korban. Pelaku pun perlu mendapatkan perhatian yang khusus.

Peran orang tua juga diperlukan dalam membantu guru dalam meminimalisir peristiwa bullying ini. Ketidakhadiran peran orang tua dalam mendidik perilaku murid di sekolah hanya membuat problematika tersebut semakin sukar untuk diminimalisir.

Baca Juga: Jackie Chan hingga Lady Gaga, 8 Artis Internasional Ini Pernah Jadi Korban Bully

“Ada orang tua yang mikir ‘anak saya sudah saya pasrahkan ke sini, ya sudah’, juga ada yang menganggap anak mereka selalu benar, ada juga yang menganggap anak mereka di-bully terus. Nah, kalau merasa sering di-bully tapi anak itu gak berusaha membela diri tapi sering lapor orang tua, ya susah,” beber Dhika.

Dhika menekankan bahwa untuk menghindari peristiwa bullying, perlu diajarkan edukasi mental supaya para murid tidak merasa terlalu sensitif dan lebih percaya diri.

“Di sini kami memupuk positif psikologi. Kami menerapkan ini karena memang bisa ngerem mulut, ya. Alhamdulilah sejauh ini sudah ada perubahan,” pungkas Dhika.

Karet Bungkus: Ilham Musyafa
Ilustrator: Nanda Tri Pamungkas
Reporter: Dwi Setiyani
Penulis: Swara MArdika
Editor: Ilham Musyafa