ilustrasi @travelingyuk
ilustrasi @travelingyuk

MALANGTODAY.NET – Kegiatan buka bersama (buber) memang tidak bisa lepas dari aktivitas di Bulan Ramadan. Saban tahun, kegiatan ini kerap dilakukan dan (seolah) sudah menjadi ‘tradisi’ wajib setiap orang.

Pelakunya pun tidak hanya muslim, bagi non-muslim (kadang) juga turut andil dalam kegiatan ini. Maka tak heran jika banyak di antara mereka juga menyediakan makanan buka puasa untuk disantap bersama (buber).

Pengamat sosial vokasi Universitas Indonesia, Devie Rahmawati mengatakan kelekatan buber dengan masyarakat muslim Indonesia merupakan wujud pertemuan budaya ketimuran dan ajaran Islam.

Dia mengutip salah satu hadis yang berarti, “siapa yang memberi orang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga’.

Menurutnya, hadis inilah kemudian relevan dengan hadis-hadis yang mengatakan bahwa marilah kita berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan.

“Ajaran Islam ini kemudian bertemu dengan budaya ketimuran yang kolektif,” katanya, seperti dilansir dari CNNIndonesia, pada Sabtu (18/5/2019).

Meski demikian, bukan berarti tradisi makan bersama ini ada, setelah masuk ajaran Islam ke Indonesia. Devie menjelaskan sebelum periode masuknya Islam ke Indonesia pun, kondisi geografis dan karakter masyarakat timur memperkuat tradisi buber.

Bicara keadaan geografis, kondisi cuaca maupun iklim yang termasuk hangat kemudian karakter ketimuran yang suka berkumpul. Devie menganggap ini sudah jadi bagian dari DNA orang-orang timur.

“Jadi bukan berarti (berkumpul) cuma ada saat ada Islam. Sebelum Islam pun DNA kumpul-kumpul itu sudah ada. Itu kemudian semakin memperkuat kehadiran Islam,” ujarnya.

Dia juga mengatakan bahwa tradisi berkumpul masyarakat Indonesia itu suatu kewajaran. Tradisi tersebut merupakan ciri bagi masyarakat yang komunal.

“Terlepas dari adanya bulan suci Ramadan atau tidak, kita melihat, masyarakat kita ketika sudah berdiskusi panjang di media sosial, lalu ‘yuk ketemuan yuk’. Itu menunjukkan ciri dari masyarakat komunal.” Tandasnya.

‘Yuk buber yuk’! Sudah buberkah Ramadan ini? (Bas)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.