Mengenal Teknik Inovasi Diseminasi Bujangseta Ala Balitjestro Kota Batu
Tim Balitjestro tengah menunjukkan teknologi pelengkungan, salah satu teknik diseminasi Bujangseta di Kebun Percobaan Banaran Bumiaji, Kota Batu (Azmy)

MALANGTODAY.NET – Baru-baru ini Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) yang bertempat di Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu berhasil membuahkan inovasi teknologi dalam upaya menggenjot angka produksi buah jeruk nasional.

Inovasi baru ini dinamakan pembuahan jeruk berjenjang sepanjang tahun (Bujangseta). Dengan cara ini, pohon jeruk yang umumnya hanya menuai masa panen tiga kali dalam setahun, bisa didongkrak mencapai enam kali masa panen dalam setahun dengan kualitas mutu buah premium.

Kepala Balitjestro Dr. Ir. M Taufiq Ratule mengatakan, bahwa teknologi Bujangseta ini meliputi berbagai hal. Mulai manajemen kanopi, manajemen nutrisi hingga manajemen hama penyakit.

Diterangkan Taufik, manajemen kanopi lebih berhubungan dengan desain kanopi tanaman guna kebutuhan suplai cahaya matahari yang cukup.

Selain itu juga ada teknologi pelengkungan dengan harapan C/N ratio pada batang atau ranting tanaman mampu memicu hormon bergerak ke arah yang paling tinggi saat dilengkungkan.

“Sehingga hormon bekerja dan memicu bud flower (Tunas bunga),” urainya.

Lebih lanjut, manajemen nutrisi diperlukan untuk mendukung pecahnya tunas yang dipicu oleh hormon sitokinin. Nutrisi berupa pupuk ini diberikan secara periodik setiap 1,5 bulan sekali.

“Nutrisi ini berupa pupuk NPK granule dan cair. Untuk meningkatkan kemanisan bisa ditambahkan pupuk dengan kandungan magnesium tinggi,” paparnya.

Terakhir adalah manajemen hama penyakit, dimana manajemen ini merupakan bentuk antisipasi buah jeruk dari penyakit burik kusam selama proses budidaya hingga masa panen.

Pengendalian ini dilakukan secara hayati dan kimiawi. Taufiq menuturkan, pengendalian secara hayati bisa dengan menggunakan entomapatogen Hirsutella sp.

Sedangkan secara kimiawi, bisa dikendalikan dengan akarisida berbahan aktif abamektin, propagit, dan dikofol sesuai dosis yang dianjurkan.

“Hal ini guna mendapatkan kualitas buah yang mulus dengan mutu premium,” tutup Taufiq.

Taufiq menambahkan, teknologi ini bisa diterapkan apabika tanaman sudah berbuah. Teknologi berdasarkan hasil riset selama lima tahun ini, mengarah pada pertunasan generatif dan bunga mampu mekar secara serempak.

“Riset ini memakan waktu sekitar lima tahun. Tujuannya agar petani bisa panen terus tanpa ada periode kosong,” tutupnya.

Loading...