Sungai Brantas sebelum tahun 1940 @wikipedia

MALANGTODAY.NET – Memperingati Hari Bumi yang jatuh pada Sabtu (22/4) ini, segenap masyarakat Kelurahan Sisir menekankan isu Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas sebagai fokus strategi konservasi lingkungan mereka.

Hal ini tampak dari kegiatan mereka dalam Festival Brantas yang digelar di kawasan Jalan Sultan Hasan Halim pada Jumat (21/4) hingga Minggu (23/4) nanti.

Staf Penanganan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Musa Khusainudin memandang giat keaktifan masyarakat Sisir bisa dijadikan role model bagi kelurahan desa lain di Kota Batu.

Dalam kajian konservasi lingkungan, ia menambahkan atensi masyarakat Sisir pada Sungai Brantas dianggap tepat sasaran. Pasalnya, Sungai Brantas yang mengaliri 17 kota dan kabupaten di Jawa Timur ini hulu sungai ada di Kota Batu.

Musa Khusainudin, Pegiat Konservasi Lingkungan dan Staf Penanganan dan Kesiapsiagaan BPBD. (22/4) (Azmy)

“Sungai Brantas bukan hanya sekedar sungai. Ia lebih berarti sebuah nilai kebudayaan bagi kami. Air merupakan sumber kehidupan kita semua,” tegasnya mantap.

Sungai brantas memiliki aspek historis yang sangat panjang dalam benak masyarakat. Mulai dari tempat bermain, bersosialisasi, dan juga sumber kebutuhan air utama bagi masyarakat banyak.

Musa menambahkan bahwa Sungai Brantas sebagai sungai induk yang mengaliri air kehidupan masyarakat banyak se Jawa Timur, sudah harus mulai memikirkan pengelolaan dan perlindungan sumber air ini.

“Mungkin memang perlu adanya strategi perlindungan wilayah dengan capaian ke arah revitalisasi DAS Brantas,” paparnya.

Menilik kondisi Sungai Brantas saat ini cukup memprihatinkan. Deforestasi di wilayah penyangga, sedimentasi yang semakin meninggi dan debit dan kualitas air yang semakin menurun membuat pria dan warga Sisir ini was-was.

“Kalau bukan kita sebagai warga yang tinggal disekitar wilayah penyangga yang merawatnya, lalu siapa lagi. Semua orang butuh air mas,” ungkap pria warga Sisir ini.

Oleh karena itu ia berharap pada masyarakat sekitar, pemangku wilayah baik sekarang ataupun mendatang menaruh perhatian soal sumber daya ini. Mengingat gejala perubahan iklim bumi mulai menurun tidak stabil secara drastis

“Kondisi bumi sudah sangat mengkhawatirkan mas. Sumber daya alam semakin menipis. Ketersediaan air bersih menurun. Yang saya takutkan adalah generasi berikutnya. Kita akan membekali mereka dengan apa?,” tuturnya getir pada MalangTODAY ditemui di Omah Koempoel dalam Festival Sungai Brantas, Kel. Sisir, Kec Batu (22/4)

Berikan tanggapan Anda

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here