Reaksi Pemerhati Lingkungan Terkait Maraknya Deforestasi di Kota Batu
Sejumlah pohon di depan pintu masuk kawasan Dino Park Jatim Park 3 dan KUD Batu telah ditebang (azmy)

MALANGTODAY.NET – Deforestasi lingkungan di Kota Batu terus berlanjut. Padahal daerah yang dijuluki sebagai Kota Apel itu menjadi salah satu destinasi pariwisata yang terkenal karena kesejukan dan juga keindahan panorama alamnya.

Seiring waktu berjalan, konsep pariwisata Kota Batu lambat laun menjadi konsep pariwisata berorientasi kapital. Seluruhnya didasarkan atas kepentingan pengusaha dan investor, tanpa mengindahkan dampak individu dan sosial warga kota itu sendiri.

Degradasi lingkungan secara massif ini diamini salah satu tokoh pemerhati lingkungan Kota Batu, Syaifuddin Zuhri atau akrab dipanggil Gus Udin.

Aktivis dan pemerhati lingkungan Kota Batu, Gus Udin. (Azmy)

Kerusakan lingkungan tersebut terjadi akibat eksploitasi berupa pembangunan infrastruktur tidak berwawasan lingkungan. Seperti berkembangnya tempat wisata buatan, berbasis beton.

“Semua hutan kota disini alih fungsi jadi hutan wisata. Seharusnya hutan-hutan penyangga air itu menjadi cagar alam, bukan malah dihilangkan atas nama pembangunan infrastruktur,” ungkap Gus Udin saat ditemui MalangTODAY, Senin (30/10).

Sebagai penunjang historis, lanjut Gus Udin, hampir seluruh wilayah yang ada di Kota Batu telah tereksploitasi konsep pariwisata kapital tersebut. Mulai dari gunung, kampung, desa lahan pertanian semua tergerus kepentingan pariwisata kapital.

“Semua berhaluan proyek, tidak mengutamakan keberlanjutan sumber daya manusia dan sumber daya alam. Bukannya menanam pohon, malah melakukan pengerasan jalan. Pengerasan inilah yang bikin kota ini makin panas,” imbuhnya.

Gus Udin menambahkan, semua pohon jenis beringin yang ada di Kota Batu murni ditanam oleh masyarakat sejak ratusan tahun lalu. Mulai sejak jaman Belanda, juga ada gelombang penanaman pada tahun 1999 yang ditanam secara mandiri oleh warga.

“Apa susahnya menanam pohon, toh Kota Batu terkenal juga berkat keasrian pohon-pohonnya. Semakin banyak pohon, semakin banyak wisatawan. Mbok ya bikin keputusan itu yang arif,” himbaunya.

Menjamurnya tempat wisata di Kota Batu, lanjut Gus Udin, tidak dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Malah Warga Kota Batu justru tidak bisa menikmati wisata di kotanya sendiri.

“Buru-buru wisata, urusan kedaulatan pangan di Kota Batu saja tidak berdaulat. Semua dikemas, dihargai, lahan pertanian semakin berkurang,” kesalnya.

Menanggapi aksi penebangan pohon tak bertanggung jawab yang terjadi akhir-akhir ini, Gus Udin sangat prihatin. Menurutnya, satu pohon sangat berarti untuk keberlangsungan kehidupan di Kota Batu.

Sejumlah pohon di depan pintu masuk kawasan Dino Park Jatim Park 3 dan KUD Batu telah ditebang Habis (Azmy)

Pohon adalah satu infrastruktur penyangga air, sumber kehidupan yang mengaliri 17 kota/kabupaten seluruh Jawa Timur. Ia berharap Kota Batu memiliki pemimpin yang mempunyai pengetahuan luas mengenai sejarah Kota Batu.

“Jangan sampai Kota Batu punya pemimpin yang tidak memiliki pengetahuan dan sejarah Kota Batu terutama soal ini,” tegasnya. (Azm/Ind)

Berikan tanggapan Anda

Komentar Anda