Makam Dinger, Destinasi Wisata Bersejarah Kota Batu
Makam Dinger yang berada di desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Batu (Istimewa)

MALANGTODAY.NET– Selain identik dengan perkebunan apel dan rujukan wisata di Jawa Timur, Kota Batu ternyata juga menyimpan situs peninggalan bersejarah.

Salah satunya seperti Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Sejarah mencatat, Desa Tulungrejo merupakan daerah yang pernah ditinggali Belanda dalam waktu yang cukup lama. Tak heran, desa ini memiliki beberapa tempat peninggalan bersejarah, seperti bangunan-bangunan tua yang penuh misteri.

Diantara bangunan yang dilingkupi misteri itu ada sebuah bangunan tua yang bernama ‘Makam Dinger’. Lokasi yang berada di tengah-tengah areal perkebunan di daerah Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu membuatnya cukup menyita perhatian.

Sebab lokasinya yang berdiri sendiri, serta tampak masih megah di tengah-tengah hamparan areal perkebunan yang berhawa dingin dan berbukit-bukit, sangat cocok untuk para penggila fotografi.

Sejarah Makam Dinger
Kepala Desa Tulungrejo, Suliono@Andika Fajar Kurniawan/MalangTODAY.net

Kepala Desa Tulungrejo, Suliono, menjelaskan bahwa sejarah awal bangunan tua tersebut adalah sebuah bangunan untuk menyimpan jenazah keluarga Dinger.

“Bangunan ini diketahui merupakan mausoleum atau sebuah kompleks makam milik keluarga Dinger. Hal ini diketahui berdasarkan sebuah pahatan yang tertera di bagian atas pintu bangunan ini yang bertuliskan ‘Graf Familie Dinger’ yang berarti makam keluarga Dinger,” jelasnya Senin (18/3/2019).

Iapun menjelaskan bahwa bangunan ini diperkirakan dibangun sekitar tahun 1917. Ia juga menambahkan, bahwa Makam Dinger dulunya digunakan untuk menyimpan peti mati milik Graaf J. Dinger dan istrinya.

“Di sebelah kiri dan kanan pahatan itu juga terdapat tulisan anno 1917 yang berarti tahun 1917 dan biasa digunakan sebagai penanda tahun pembangunan atau mungkin juga tahun penguburan di mausoleum itu,” jelasnya lebih lanjut.

Lebih lanjut, Suliono menjelaskan bahwa kedua jenazah yang dulu disemayamkan di bangunan tersebut. Sudah dipindahkan ke negeri asalnya yaitu Belanda dan kini tempat tersebut digunakan oleh warga sekitar untuk menyimpan barang.

“Kalau ada yang ber-statement lain itu salah. Sebab, jenazah Tuan Dinger itu sudah di bawa ke kampung halamannya di Belanda, mas. Sekarang bangunannya digunakan warga untuk menyimpan barang,” imbuh Suliono.

Perlu Dilestarikan dan Dipromosikan Sebagai Destinasi Wisata
Makam Dinger sebagai spot hunting fotografi (Istimewa)

Sebagai sebuah mausoleum yang bersejarah, Makam Dinger telah kehilangan fungsi utamanya karena sudah tak ada lagi jenazah yang ada di dalamnya. Namun sebagai bangunan cagar budaya, makam Dinger ini tentunya harus dipertahankan mengingat rekam jejak sejarahnya yang penting.

“Perlu adanya bentuk perhatian dari Pemerintah Kota Batu, seperti memberikan plang bertuliskan dilarang membuang sampah sembarang dan dilarang corat-coret di bangunan Makam Dinger. Karena, ini salah satu cagar budaya di Kota Batu yang perlu dilestarikan, dijaga serta dirawat dengan baik. Tujuannya apa? Supaya menjadikan destinasi wisata,” jelas Suliono.

Saat di singgung cagar budaya Makam Dinger kerap digunakan sebagai spot hunting fotografi. Kepala Desa Tulungrejo inipun sangat mendukung dan mengapresiasi kegiatan tersebut. Ia menilai bahwa dengan adanya kegiatan fotografi, juga akan membantu memperkenalkan lokasi bersejarah ini.

“Itu bagus sekali mas, sebab dengan adanya para fotografer itu jelas membantu turut mempromosikan cagar budaya Makam Dinger sebagai salah satu destinasi wisata di Kota Batu yang perlu dipromosikan. Ya, melalui fotografer nantinya hasil fotonya kan bisa di share ke Sosial Media (Sosmed). Sehingga, dengan adanya bangunan peninggalan Belanda ini nantinya bisa cepat terkenal dan pastinya bakal ramai dikunjungi para wisatawan yang berkunjung ke Kota Batu,” pungkasnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, pada masa lalu dipercaya mausoleum bersejarah ini memiliki kondisi yang indah dan megah. Hal tersebut dapat dilihat pada bagian keliling bawah dari bangunan utama, terdapat kolam yang mengelilinginya.

Itulah mengapa pada jalan masuk menuju ke bangunan utama mausoleum ini terdapat sebuah jembatan walaupun pada saat ini di sekitar tempat itu tidak ditemukan sungai. Bagaimana ZensToday? Tertarik hunting foto di lokasi ini? (FAJ/AL)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.