Salah Satu Seniman Keramik Muda, Dimar Wahyu Lestari Saat Memamerkan Hasil Karyanya (azmy)
Salah satu seniman keramik muda, Dimar Wahyu Lestari saat memamerkan hasil karyanya (Azmy)

MALANGTODAY.NET – Seni keramik menjadi cabang seni yang umumnya jarang dilirik pegiat seni, apalagi generasi kids zaman now. Tapi pemandangan berbeda datang dari kota kecil di Kota Batu.

Sejumlah anak muda yang tergabung dalam komunitas Tanah Putih unjuk gigi memamerkan karya seni keramik bikinan mereka di Matahati Ceramics Studio, Sabtu (9/12) kemarin.

Tidak tanggung-tanggung, bentukan keramik kids zaman now ini punya nilai artistik tersendiri. Tidak hanya sekedar berupa cangkir atau mangkuk, keramik bentukan mereka juga sangat artisitik kekinian.

Saat MalangTODAY datang ke tempat eksebisi, sejumlah 30 judul seni keramik bergaya realis, pop-art hingga abstrak dipamerkan dalam pameran bertajuk ‘Keramik Zaman Now’ di mini studio Matahati Ceramics Kota Batu.

Sejumlah Pengunjung Tengah Antusias Melihat Hasil Karya Seni Keramik Di Matahati Ceramics Studio (azmy)
Sejumlah pengunjung tengah antusias melihat hasil karya seni keramik di Matahati Ceramics Studio (Azmy)

Mulai dari keramik berbentuk loyang, pisang, sarang tawon, bunga mawar, tumpukan batu candi hingga berbagai bentukan keramik lainnya. Tentu, ini menjadi awal titik balik yang bagus dalam sejarah perkeramikan di Jawa Timur, khususnya di Malang Raya.

Hal ini diakui Koordinator Eksebisi Keramik Zaman Now, Muklis Arif. Bahwa digagasnya pameran seni keramik ini berangkat dari minimnya geliat seni keramik di Jawa Timur.

Resah akan hal itu, ia dengan beberapa rekan kemudian menggagas komunitas yang dinamakan Tanah Putih sebagai langkah awal regenerasi seniman keramik Jawa Timur.

“Jadi di mini studio ini seringnya ada magang mahasiswa. Nah, mereka mikirnya bagus. Daripada disini hanya jadi tuntutan akademik kan rugi, akhirnya kita gagas komunitas Tanah Putih sehingga hasrat seninya bisa tersalurkan setelah lulus nanti,” ungkapnya kepada MalangTODAY saat ditemui.

Tentu hal ini, lanjut Muklis, mematahkan anggapan umum soal generasi muda sebagai generasi digital. Bahwa ternyata mereka juga memiliki talenta pada seni manual (kerajinan tangan).

“Sebagai generasi digital di era teknologi informasi ini, namun mereka juga mahir dan mau menekuni seni tradisional gerabah,” terangnya.

Sejumlah Pengunjung Tengah Antusias Melihat Hasil Karya Seni Keramik Di Matahati Ceramics Studio (azmy) (2)
Sejumlah pengunjung tengah antusias melihat hasil karya seni keramik di Matahati Ceramics Studio (Azmy)

Sejumlah tiga puluh empat judul karya dari sepuluh pengkarya termasuk Muklis ini tak hanya datang dari Kota Batu. “Ada yang dari Sampang, Mojokerto, Tuban, Surabaya, Probolinggi hingga Kediri. Mereka semua aktif bikin keramik disini,” papar pria yang menggelui seni keramik sejak tahun 1989 ini.

Mengubah keramik menjadi barang bernilai seni membutuhkan ketelatenan dan kemauan yang tinggi. Sebab itu, pria yang juga sebagai Dosen Fakultas Seni Rupa Unesa ini sangat terbuka jika ada yang tertarik untuk belajar seni keramik di Matahati Ceramics Studio.

Matahati Ceramics sangat terbuka untuk umum untuk mengadakan mini workshop dan lain-lain. Segala fasilitas mulai tanah liat, cat, hingga mesin pembakaran semua ada disini.

“Diharapkan bisa memicu geliat seni keramik yang semakin kesini semakin tersisihkan dengan cabang seni rupa lain yang lebih gegap gempita.Kami sangat terbuka dengan siapapun yang mau belajar disini,” tuturnya.

Dengan begitu, dari pameran ini diharapkan bisa menjadi langkah awal dalam perjalanan panjang Matahati Ceramics dalam blantika seni perkeramikan.

Loading...