Para Peserta Pelaku Hortikultura Tampak Antusias Mendengarkan Penjelasan Teknologi Bujangseta Dari Tim Balitjestro Di Kebun Percobaan Banaran (azmy)
Para Peserta Pelaku Hortikultura Tampak Antusias Mendengarkan Penjelasan Teknologi Bujangseta Dari Tim Balitjestro Di Kebun Percobaan Banaran (azmy)

MALANGTODAY.NET – Komitmen untuk terus menggenjot tingkat produksi buah jeruk dalam negeri menjadi perhatian utama Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

Pasalnya, Indonesia menduduki peringkat pertama dalam hal produktivitas dan jumlah areal lahan jeruk di Asia Tenggara. Namun hal itu tidak dibarengi dengan tingkat ekspor komoditas Jeruk Indonesia yang masih jauh dari harapan.

Data dari Kementerian Pertanian menyebutkan rata-rata angka produksi jeruk nasional tiap tahunnya bisa menghasilkan sebanyak 40 kilogram per pohon dalam tiap tahunnya.

Oleh sebab itu Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Dirjen Hortikultura melalui UPT Balai Penelitian Jeruk dan Buah Sub Tropika (Balitjestro) mengenalkan inovasi teknologi diseminasi terbaru, yakni Pembuahan Jeruk Berjenjang Setiap Tahun (Bujangseta).

Kepala Balitjestro Dr. Ir. M Taufiq Ratule mengungkapkan, teknologi Bujangseta ini mampu menggenjot masa panen pohon jeruk sebanyak 6 kali dalam setahun.

“Kalau selama ini dalam setahun ya hanya bisa panen dua kali. Dengan adanya sistem diseminasi Bujangseta kita bisa genjot panen sampai 6 kali dalam setahun sebagai solusi mengurangi jumlah impor buah jeruk,” ungkapnya kepada awak media di sela pelatihan lapang di Kebun Percobaan Banaran, Kamis (23/11).

Sebagai informasi, teknologi Bujangseta ini bisa diterapkan pada tanaman yang sudah berbuah dengan mutu dan kualitas buah premium. Dengan manajemen penerapan meliputi Manajemen Kanopi, Manajemen nutrisi dan Manajemen Hama Penyakit. Ketiga manajemen ini mengarah pada pertunasan generatif dan bunga mampu mekar serempak.

Inovasi teknologi Bujangseta ini dirasa pihaknya merupakan solusi jitu dalam menggenjot angka produksi Jeruk dalam negeri. Tingkat impor buah yang tinggi menurut Ratule oleh sebab kosongnya ketersediaan komoditas.

“Masa panen dua kali itu kan ada kekosongan komoditas. Di sela kekosongan masa panen itulah kita impor, karena kan buahnya ini laku terus setiap hari,” urainya.

Dalam pelatihan inovasi diseminasi tersebut dibuka langsung okeh Pejabat Eselon 2 Kementerian Pertanian yakni Dr. Hardiyanto, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura.

Dilanjutkan dengan praktek lapang dengan meninjau beberapa pohon jeruk berbagai jenis (Keprok, Siam, dan Manis) di Kebun Percobaan Banaran.

Sejumlah 149 orang berasal dari 12 penjuru Provinsi Indonesia mulai dari Sulawesi Selatan, Kalimantan Utara, Kalimantan Barat, Bengkulu, Riau, Lampung, Bali, Jabar, Jateng,Yogyakarta, Jatim, dan Bali tampak antusias mendengarkan arahan materi tim Balitjestro.

Para peserta pelatihan ini terdiri dari Mahasiswa, Dosen, Petugas PPL/POPT/Mantan, Peneliti BPTP, Petani, dan swasta Pelaku agribisnis Jeruk.(azm/zuk)

Berikan tanggapan Anda

Komentar Anda