Malangtoday.net – Kepedulian pemuda akan politik, nampaknya kian lama kian memudar. Hal ini bisa ditandai dari menurunnya partisipasi pemuda dalam kancah perpolitikan dan justru sebagian besar dari para pemuda ini cenderung merasa apolitis, padahal dalam segi kehidupan berbangsa dan bernegara, politik tidak dapat dilepaskan begitu saja.

Ketua Kaukus Perempuan Politik Indonesia Kota Malang, Ya’qud Ananda Gudban, juga angkat bicara perihal minimnya peran dan partisipasi pemuda dalam politik.

Menurutnya, ada beberapa faktor yang menyebabkan, para generasi penerus bangsa ini cenderung menjauh dari dunia politik yang sangat menentukan arah dan tujuan pembangunan bangsa.

Pertama, menurut wanita yang akrab disapa Nanda itu, adalah faktor pemberitaan yang banyak menonjolkan kegaduhan di dunia politik, sehingga mindset masyarakat menganggap jika politik itu selalu diwarnai kegaduhan dan ketidakharmonisan. “Pemberitaan politik yang identik dengan gaduh itulah yang selama ini menjadi konsumsi publik,” kata Nanda kepada Malangtoday.net.

Masalah kedua, yakni perilaku para aktor di panggung politik yang sering tidak sesuai dengan janjinya pada saat meraup suara warga, khususnya anak muda.

Janji manis bermuatan politis yang tanpa realisasi itulah menyebabkan masyarakat semakin tidak percaya dengan sehingga mampu menjadi pemicu sikap apolitis atau anti pada dunia politik.

“Perilaku politisi yang tidak sesuai dengan harapan dan atau janjinya itulah juga menjadi pemicu menurunya trust anak muda pada politik,” ungkapnya.

Wanita yang juga anggota DPRD Kota Malang ini menambahkan, faktor lain yang menyebabkan anak muda seakan acuh tak acuh pada dunia politik adalah banyaknya politisi yang tidak memiliki basis intelektual mumpuni, sehingga ketika tampil tidak mampu menggugah hasrat anak muda.

“Politisi banyak yang tidak menjadi role model, sehinggga hal ini juga merupakan faktor,” ungkapnya.

Imbas langsung dari sikap anti politik khususnya bagi anak muda inin adalah menurunnya partisipasi mereka dalam Pemilihan Umum (Pemilu) ataupun Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

Padahal, lanjut Nanda, para pemilih dari kalangan anak muda bisa menjadi pemilih yang rasional dan mampu memilih pemimpin tidak berdasarkan uang melainkan menimbang-nimbang perihal kapabilitas, kemampuan dan komitmen calon pemimpin.

“Harusnya anak muda jadi pemilih yang rasional dalam arti mereka bisa melihat visi dan misi, tidak memilih berdasarkan sogokan, tapi sayangnya yang terjadi tidak demikian,” Ujarnya.

Salah satu solusi mengatasi permasalahan anak muda dalam dunia politik ini, maka perlu dilakukan berbagai talk show dan seminar ataupun hal sejenis dengan sasaran anak muda agar memahami apa peran politisi dalam pembangunan

“Sementara itu pemberitaan di media harus juga berimbang baik yang negatif maupun positif, sehingga ada gambaran baik tentang politik sehingga tidak terkesan menakutkan bagi anak muda yang mau terjun dalam politik,” pesan Nanda.