Malang Today: Ada Apa Dengan Politik?

MALANGTODAY.NET – Apa sih politik itu? Penting nggak sih kita anak muda mikirin yang namanya politik itu? Rasanya penting nggak penting ya, namun tidak ada salahnya kita sebagai generasi bangsa berfikir sejenak dan mencari tahu apa pentingnya politik bagi kita, pemuda yang hidup di era digital, yang semuanya memang serba mudah.

Karena sangking penasarannya dengan makna politik ini, tim MALANGTODAY.NET selama beberapa hari ini sengaja menghimpun pendapat para generasi muda di Malang Raya. Tak sedikit diantara mereka yang merasa biasa saja, tapi beberapa menyatakan ketertarikannya terhadap dunia politik ini.

Faishal Hilmy Maulida salah satunya, alumnus Ilmu Sejarah Univeraitas Negeri Malang yang kini menempuh pendidikan Pasca Sarjananya di Universitas Indonesia itu mengatakan, masalah mendasar yang perlu dilakukaan saat ini adalah membangun kesadaran politik dikalangan anak muda.

Menurutnya, kebanyakan diantara anak muda sekarang antipati terhadap dunia politik. AntipatI itu bukan tanpa alasan, tapi disebabkan miskinnya tokoh yang mampu menjadi teladan. Hampir setiap hari, pemberitaan selalu diisi dengan tokoh politik yang diberitakan negatif, mulai KKN (korupsi, kolusi, nepotisme), kegaduhan di parlemen, dan sebagainya.

“Padahal, tidak bisa digeneralisir semua begitu. Perlu ada tokoh yang bisa memotivasi generasi muda, tapi tak pernah dipublish,” katanya.

Terpenting, lanjut Hilmy, bagaimana mengisi kekosongan ketokohan itu. Jika tidak ada perubahan, jelas anak muda antipati terhadap dunia politik. Dia menyebutkan, Machiavelli pernah berucap ‘Dalam politik, ketika orang baik diam saja, orang jahat akan merajalela’. Sehingga penting kiranya, gerakan penyadaran itu dimulai dari sekarang, utamanya dimulai dari gerakan kepemudaan yang memiliki tanggung jawab besar.

Menurutnya, paling tidak dimulai dari kelompok-kelompok diskusi, baik di dalam maupun diluar kampus. Gerakan penyadaran tidak sebatas gerakan tanpa nafas, mewarisi perjuangan tokoh pendahulu seperti Bung Karno, Hatta, Tan Malaka, hingga Syahrir.

“Jangan hanya mewarisi abunya, tapi juga mewarisi apinya,” ungkapnya semangat.

Mantan Ketua BEM FIS ini menekankan, gerakan penyadaran tidak akan ada gunanya tanpa ada gerakan literasi. Sebab, pada dasarnya semua dimulai dari membaca buku, diskusi, membuat karya tulis hingga aksi.

“Malas membaca buku itu sama saja dengan melestarikan kebodohan,” terang pria asal Lawang, Malang ini.

Dengan membaca buku pula, lanjutnya, atau dengan penyadaran gerakan literasi, maka akan menjauhkan generasi muda yang melek politik untuk tidak dengan mudahnya terjun ke dalam politik praktis, juga bagi generasi muda yang tidak melek politik akan membuka cakrawalanya bahwa mengerti politik itu penting.

Hal senada juga dikatakan oleh mahasiswi Pasca Sarjana Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Malang, Ima Ria Fitriani, yang mengatakan bahwa pemuda seharusnya sadar politik, tidak malah acuh tak acuh. Karena pada dasarnya, politik sangat menentukan kehidupan masyarakat baik secara lokal maupun nasional.

“Tapi anak muda sekarang rasanya mulai perhatian dengan dunia politik. Buktinya, di media sosial sekarang banyak dibahas tentang politik, lebih menarik dengan meme. Bahkan ada yang menyampaikan dengan joke cerdas stand up comedy,” paparnya.

Baginya, peran pemuda juga penting dalam mengawal dan mengkritisi kebijakan pemerintah. Dengan lebih kritis, maka pemuda tidak hanya asal ikut dan asal setuju. Setiap kritik yang disammpaikan kebanyakan saat ini memang disalurkan menggunakan sosial media. Tapi sayang, mereka hanya melihat pada satu arah, dan cenderung ikut-ikutan.

“Ya jangan ikut-ikutan dong, harus rasional dan penuh pertimbangan. Jangan sampai kritik lewat sosial media akhirnya hanya menjadi ajang perang kata, black campaign, bagi pemuda yang kurang sadar dan mengerti politik,” tambah perempuan berhijab ini.

Sementara itu, Presiden BEM Polinema, Gilang Rizal Afdholy menambahkan, praktik dan perkembangan politik di Indonesia cukup viral. Ini menjadi bagian resiko yang harus diambil di era globalisasi. Sehingga banyak sekali tantangan yang menuntut untuk lebih pandai dalam hal berpolitik.

“Ketika pemahaman kita tentang politik kurang, maka seseorang akan cenderung kurang terbiasa atau terkejut dengan atmosfer politik yang ada sehingga cukup kesulitan untuk bertahan di dalamnya,” katanya. (ind).

Berikan tanggapan Anda