Bintang telah jatuh, ungkapkan harapanmu - Instagram @martin_marthadinata
Bintang telah jatuh, ungkapkan harapanmu - Instagram @martin_marthadinata

MALANGTODAY.NET – Hujan meteor adalah salah satu peristiwa astronomis yang begitu memukau. Langit malam akan dihiasi lesatan cahaya selama beberapa jam di arah tertentu. Peristiwa ini akan menghipnotis siapapun yang mengamatinya. Di bulan November ini, terdapat beberapa peristiwa hujan meteor salah satunya hujan meteor Leonid. Hujan meteor yang satu ini menjadi hujan meteor dengan intensitas paling tinggi selama bulan November. Lalu, apa sajakah fakta-fakta mengenai hujan meteor ini? Yuk disimak dulu.

1. Meteor yang Pertama Kali Dilihat dan Dicatat oleh Manusia

Andrew Elicott Douglass - Foto activegalacticvideos(dot)com
Andrew Elicott Douglass – Foto activegalacticvideos(dot)com

BACA JUGA: November 2018, Ini Daftar 4 Grup K-pop yang Gelar Konser di Jakarta

Hujan meteor ini pertama kali dilihat dan dicatat oleh seorang astronom dan arkeolog Amerika Serikat, Andrew Ellicott Douglass. Tercatat, ia melihat hujan meteor ini pada 12 November 1799 saat berada di kapal Florida Keys. Baru setelah itu ia mencatat peristiwa yang baru saja dialami. Catatan jurnal tersebut terus dikembangkan hingga sekarang kita dapat mengenal lebih banyak mengenai hujan meteor Leonid ini.

2. Terjadi pada Bulan November

Hujan meteor ini terjadi pada bulan November setiap tahunnya. Puncaknya terjadi pada tanggal 17 November malam hari dan 18 November dini hari dengan intensitas kurang lebih 15 meteor/jam dikutip dari KafeAstronomi.com. Meski begitu, hujan meteor ini sudah dapat disaksikan sejak 6 November hingga 30 November. Namun, intensitas meteor yang melintas akan lebih sedikit dibandingkan saat puncak hujan meteor.

3. Berasal dari Komet 55P alias Tempel-Tuttle

Hujan meteor Leonid berasal dari serpihan Komet Tempel-Tuttle. Komet ini mengorbit Matahari dengan periode 33.2 tahun sekali. Hujan meteor Leonid ini terjadi ketika Bumi melewati puing-puing komet tempel-Tuttle di angkasa.

BACA JUGA: Jakarta Terapkan Kartu Nikah dengan QR Code Akhir November Ini

4. Muncul dari Rasi Leo

Rasi Leo dan nama bintang penyusunnya - Foto Go Astronomy
Rasi Leo dan nama bintang penyusunnya – Foto Go Astronomy

Nama-nama hujan meteor biasanya berasal dari nama rasi pusat munculnya hujan meteor. Pada hujan meteor Leonid, meteor-meteor ini datang dari rasi Leo. Rasi Leo dapat kamu temukan di arah Timur Laut di langit malam hari. Kalau kamu nggak hafal rasi-rasi bintang di langit, bisa mencarinya melalui bantuan aplikasi simulasi langit di hp atau laptop.

5. Dapat Dilihat dengan Mata Telanjang

Hujan meteor ini dapat disaksikan dengan mata telanjang. Tidak perlu pakai teleskop dan piranti astronomi lainnya kecuali kamu ingin mengabadikan momen melalui kamera. Kamu bisa mengabadikan momen hujan meteor baik dengan foto maupun video. Oh iya, untuk melihatnya hujan meteor disarankan untuk berbaring mengahdap arah rasi leo. Supaya leher nggak pegel!

BACA JUGA: Kemenkes: Outbreak Penyakit Japanese Encephalitis di Bali Tidak Benar

6. Bulan Berada dalam Fase Waxing Gibbous

Tahun 2018 ini, puncak hujan meteor leonid terjadi saat fase Bulan Waxing Gibbous (cembung awal). Fase ini cukup menguntungkan demi keberhasilan mengamati hujan meteor. Dimana rasi Leo terbit ketika Bulan telah tenggelam. Rasi Leo terbit pukul 02.00 WIB. Dengan demikian, tidak ada gangguan polusi cahaya selama menikmati hujan meteor Leonid ini.

7. Waktu dan Lokasi Terbaik Mengamatinya

Waktu terbaik untuk mengamati hujan meteor Leonid adalah pukul 02.00 WIB. Kamu bisa mengamatinya hingga subuh menjelang dan lesatan meteor sudah tak nampak lagi. Kemudian untuk lokasi terbaik adalah di tempat yang memiliki jarak pandang langit luas , tidak terhalang gedung ataupun pepohonan tinggi, serta minim polusi cahaya. Buat kamu ZensTODAY yang tinggal di Malang, Cangar adalah salah satu spot terbaik mengamati hujan meteor. Dijamin kamu bakal berdecak kagum hingga speechless!

 


Penulis: Almira Sifak
Editor: Almira Sifak

Loading...