Selamat Hari Koperasi Nasional! Yuk Intip Perjalanan Koperasi di Indonesia
Koperasi @Edunews

MALANGTODAY.NET – Koperasi adalah organisasi ekonomi yang dimiliki oleh perseorangan demi kepentingan bersama. Landasannya adalah gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan pada asas kekeluargaan.

Di Indonesia, prinsip koperasi yang dinaut tak jauh berbeda dengan yang sudah ditetapkan dalam statute internasional. Prinsip tersebut telah tercantum dalam UU No. 12 Tahun 1967 dan UU No. 25 Tahun 1994. Meski demikian ada sedikit perbedaan penerapan koperasi di Indonesia dan internasional. Perbedaan tersebut adalah adanya sistem pembagian dari SHU (Sisa Hasil Usaha).

Baca Juga: Hampir 24 Jam, Korban TPA Supit Urang Belum Ditemukan

Tak dapat dipungkiri, perkembangannya turut melingkupi dinamika perekonomian di Indonesia. Perkembangannya sejauh ini disinyalir banyak membantu hajat hidup orang banyak, khususnya kalangan menengah ke bawah. Maka dari itu, tak salah rasanya jika kita menilik bagaimana lika-liku organisasi ekonomi ini sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat luas.

Dikutip dari Dahlan Djazh dalam bukunya Pengetahuan Koperasi, berikut lika-liku terbentuknya koperasi di Indonesia.

Cikal Bakal Koperasi
Cikal Bakal Koperasi
Petani zaman Belanda @Indonesia Zaman Doeloe

Perlu diketahui bahwa cikal bakal berdirinya koperasi dimulai dari sosok pamong praja bernama Patih R. Aria Wiria Atmaja di Purwokerto. Pada saat itu, ia berkeinginan untuk mendirikan sebuah Bank yang diperuntukkan bagi para pegawai negeri (priyayi). Bank ini dikhususkan untuk mereka melihat kondisi pada saat itu di mana banyak kalangan priyayi terjerat lintah darat yang memberikan pinjaman dengan bunga tinggi. Model ini terinspirasi dari Jerman.

Keinginan patih tersebut baru terealisasi di tangan De Wolffvan Westerrode, seorang asisten residen Belanda. Ia menyempatkan diri mengunjungi koperasi kredit di Jerman dan mengubah Bank Pertolongan Tabungan yang sudah ada menjadi Bank Pertolongan, Tabungan, dan Pertanian. Menurutnya, bukan hanya priyayi yang butuh bantuan dana, tapi juga petani yang makin terhimpit karena ulah pengijon. Selain berfungsi sebagai pusat simpan pinjam, ia juga mengusukan bank tersebut menjadi lumbung. Tujuannya agar petani dapat menyimpan hasil panennya pada musim panen dan dapat memberikan pertolongan pinjaman padi saat musim paceklik.

Baca Juga: Keren, Mahasiswa UM Manfaatkan Zeolit Alam sebagai Pembunuh Mikroba dalam Air Minum

Tidak Disetujui oleh Pemerintah Hindia-Belanda
Tidak Disetujui oleh Pemerintah Hindia-Belanda
Bank Zaman Belanda @Kata

Sistem yang ditawarkan oleh De Wolffvan Westerrode tidak disetujui oleh pemerintah Hindia Belanda waktu itu. Alih-alih membentuk organisasi ekonomi yang lebih merakyat, pemerintah malah membentuk lumbung-limbung desa baru, bank-bank desa, rumah gadai, dan Centrale Kas –cikal bakal Bank RakyatIndonesia (BRI)- yang nantinya semuanya akan dibawah control pemerintah.

Alasan waktu itu terkait belum bergeraknya sistem ini karena belum ada sosialisasi yang mumpuni terkait hal tersebut. Selain itu, ada pertimbangan politis lain yaitu adanya pertimbangan politis yang nantinya justru akan membahayakan pemerintah kolonial.

Berat Sebelah Penerapan Sistem Koperasi dan Inisiasi Boedi Oetomo
Berat Sebelah Penerapan Sistem Koperasi dan Inisiasi Boedi Oetomo
Boedi Oetomo @Sejarah Wisata

Belanda akhirnya luluh dengan menetapkan regulasi terkait koperasi. Yang pertama dirilis pada 1915 yang mengatur perkumpulan koperasi. Lalu pada 1927 ditetapkan peraturan khusus golongan Bumiputra. Lalu menyusul pada 1933 yang ditetapkan peraturan baru, namun hanya berlaku pada golongan yang tunduk pada tatanan hukum Barat.

Namun beberapa organisasi pergerakan berperan dalam menjaga kelangsungan sistem tersebut. Seperti Boedi Oetomo yang berdiri pada tahun 1908, Sarekat Islam yang memperjuangkan kedudukan ekonomi pengusaha-pengusaha pribumi pada tahun 1927, dan Partai Nasional Indonesia yang memperjuangkan penyebarluasan semangat ekonomi kerakyatan.

Baca Juga: Waspada Taruh Uang di Jok! Warga Sawojajar Kehilangan Rp 100 Juta

Alat Pengeruk Keuntungan Jepang
Alat Pengeruk Keuntungan Jepang
Pekerja Zaman Jepang @Indonesia Zaman Doeloe

Kedatangan Jepang pada 1942 membumbungkan kembali asa organisasi ekonomi ini. Jepang mendirikan kumiyai. Awalnya berjalan mulus, namun seiring berjalannya waktu dan kekalahan Jepang bertubi-tubi di Perang Dunia II, kumiyai ini digunakan untuk menambah modal perang bagi Jepang.

Kongres Koperasi Nasional
Kongres Koperasi Nasional
Bung Hatta @Bakaba

Pasca kemerdekaan Indonesia yang diraih dengan semangat heroik, pada 12 Juli 1947 diadakan Kongres Koperasi pertama di Tasikmalaya. Hari pelaksanaan Kongres tersebut dinyatakan sebagai Hari Koperasi Indonesia.

Pada kongres ini juga dibentuk Sentral Organisasi Koperasi Rakyat Indonesia (SOKRI) yang berkedudukan di Tasikmalaya. Kongres ini diresmikan oleh Drs. Moh. Hatta yang kemudian dkenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

Nah, itu tadi adalah gambaran dari bagaimana perjuangan untuk mendirikan organisasi ekonomi berbasis kekeluargaan bernama koperasi. Semoga bermanfaat!


Penulis: Raka Iskandar
Editor: Raka Iskandar