Ilustrasi @scout.id
Ilustrasi @scout.id

MALANGTODAY.NET – Mengapa tidak, mencoba menjual produk dengan memanfaatkan story telling kepada konsumen? Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf mengatakan kekuatan story telling mampu memberi nilai tambah dan menjadi lebih menarik di mata konsumen.

Story telling itu penting. Kurasi masyarakat sangat memerhatikan konsep sebuah produk,” ucapnya seperti dilansir dari Katadata.com, pada Minggu (14/4/2019).

Lalu, benarkan story telling mampu mendongkrak usahamu menjadi laris manis? Sebelum melangkah ke arah sana, ada baiknya simak dulu kekuatan story telling dalam mengembangkan sebuah bisnis. Mungkin, setelah membaca tulisan ini, kamu bisa berbelok arah mencoba trik story telling dalam memasarkan produk-produk kreatifmu. Yuk, simak!

Ternyata presentasi bisnis (termasuk juga dalam menawarkan produk) yang disertai dengan gaya penceritaan yang baik, jauh lebih menarik dan mampu menarik energi peserta (baca juga: konsumen) untuk melirik produkmu.

“Satu lagi, presentasi yang disertai dengan story telling itu mudah diingat,” tulis Ceo Kubik Leadership, Jamil Azzaini dalam tulisannya yang berjudul Kekuatan Story Telling untuk Bisnis, seperti yang dimuat Kumparan.com, Senin (22/1/2018).

Story telling dipercaya memiliki keampuhan dalam bisnis karena memiliki beberapa kekuatan berikut ini.

Pertama, hasil studi dari Princenton University mengatakan cerita mampu menimbulkan gelombang perasaan yang sama antara pencerita dan pendengar. Apabila digunakan dalam penjualan akan memudahkan closing. Kalau pada presentasi bisnis, membuat banyak orang lebih bersemangat. Itu artinya, bisa saja peserta presentasi dan konsumen menjadi tertarik dan akhirnya sepakat untuk bekerja sama dan atau membeli produkmu.

Kedua, cerita bisa mengubah perasaan, sikap, dan prilaku dengan sangat halus. Sebab, jika story telling tersebut dipaparkan dengan tepat, pendengar akan merasa memiliki empati dan optimis, sehingga terdorong untuk action.

Hal ini berkaitan dengan tiga hormon yang dihasilkan dari story telling. Tiga hormon tersebut adalah hormon cortiso, yang mampu membuat pendengar lebih fokus dan mendengarkan paparan dengan sepenuh hari. Hormon kedua adalah oxytocyn yang mampu menimbulkan empati kepada pencerita. Ketiga, adalah hormon dopamin mampu membuat pendegar lebih optimis dan terdorong untuk melakukan sesuatu, misalnya bekerja sama dan membeli sebuah produk.

Ketiga, dengan story telling akan jauh lebih mudah diingat daripada banyak memaparkan angka dan data. Hal tersebut diungkap oleh seorang Profesor Marketing dari standford University, Jennifer Aeker.

Nah, dengan tiga kekuatan tersebut, kenapa tidak mencoba memilih story telling sebagai jurus jitu dalam mengembangkan bisnis? Tentunya ini menjadi salah satu peranti saja, masih banyak hal-hal lain yang perlu diperhatikan dan digunakan dalam membangun bisnismu. Yang terpenting, kerja keras! (Bas)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.