Waspadai Kandungan PFASs Pada Kemasan Makanan Cepat Saji
Ilustrasi Anak Memakan Makanan Cepat Saji (Istimewa)

MALANGTODAY.NET-Sebuah studi baru menunjukkan bahwa kemasan makanan cepat saji, mengandung bahan kimia yang dapat membahayakan kesehatan. Ditulis dalam jurnal Environmental Science & Technology Letters, peneliti dari Institut Silent Spring mengatakan bahwa kemasan yang seringkali digunakan untuk membungkus makanan cepat saji, terbukti mengandung bahan kimia berbahaya fluorinated, yang dapat bocor dan tercampur ke dalam makanan, seperti dilansir dari voanews.com, Selasa (7/2).

Dari kajian tersebut, para peneliti memaparkan bahwa mereka telah menguji 400 sampel dari 27 rantai makanan cepat saji, untuk bahan kimia yang disebut PFASs (per- dan zat-zat polyfluoroalkyl), juga disebut PFCs, yang sering ditemukan dalam piranti anti lengket, tahan noda, dan produk tahan air, termasuk karpet, peralatan masak, pakaian outdoor, serta kemasan makanan.
Beberapa contoh sampel seperti pembungkus kertas, minuman kaleng, dan kertas karton juga ikut diteliti.

“Bahan kimia ini berkaitan dengan masalah kesehatan dan dampak yang akan ditimbulkan, pada orang-orang yang mengkonsumsi makanan tersebut,” ungkap Laurel Schaider, selaku kimiawan lingkungan di Silent Spring Institute.

“Paparan PFASs dapat berakibat kanker, penyakit tiroid, menurunnya kekebalan imun dalam tubuh, dan penurunan kesuburan,” terangnya.

“Risiko terhadap kesehatan anak cukup tinggi, karena tubuh anak-anak yang sedang berkembang lebih rentan terhadap bahan kimia beracun,” tambahnya

Dalam analisis terhadap kemasan makanan cepat saji tersebut, peneliti mengatakan kalau 20% dari sampel kertas karton, termasuk kotak untuk kentang goreng dan pizza, telah mengandung fluor.

Dalam analisis yang lebih detail pada 20 sampel yang telah ditentukan, para peneliti menemukan bahwa, secara umum terdapat kandungan flour yang tinggi pada sampel, selain itu ada kandungan PFASs juga ditemukan di sana.

Penggunaan PFASs memang sudah dihapuskan di Amerika Serikat, akan tetapi masih ada saja yang menggunakannya di negara lain. Beberapa perusahaan juga ada yang menggantinya dengan senyawa yang lebih redah dari PFASs.

“Penggantian senyawa tetap sama saja, dan belum ada indikasi yang menunjukkan kalau senyawa tersebut menjadi aman bagi kesehatan manusia,” kata rekan penulis Arlene Blum, selaku pendiri the Green Science Policy Institute, masih dikutip dari sumber yang sama.
Bahkan jika PFASs telah dihapus, peneliti mengatakan, PFASs masih bisa terkontaminasi ke dalam tubuh, baik melalui penggunaan bahan daur ulang atau melalui akumulasi di tempat pembuangan sampah, yang dapat meresap ke dalam tanah.

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.