‘Renovasi’ Vagina Jadi Seperti Remaja Lagi, Tertarik Sis?
Ilustrasi hubungan seksual @Lifehacker Australia

MALANGTODAY.NET – Impian untuk senantiasa terlihat muda di usia yang makin bertambah adalah impian bagi kebanyakan wanita. Berbagai inovasi kecantikan untuk perawatan peremajaan tubuh kini tak hanya mencakup tampilan visual saja, namun juga merambah ke organ intim wanita atau vagina.

Dilansir dari Viva.co.id, perawatan peremajaan vagina sudah lebih dulu populer di Barat dan kini mulai diminati di Indonesia. Beberapa selebriti seperti Nikita Mirzani dan Tessa Kaunang pernah melakukan perawatan ini. Alasannya variatif, demi kesehatan organ intim hingga kepuasan seksual suami.

Baca Juga  Kenalkan Kawasan Tanpa Rokok, Dinkes Gencar Lakukan Sosialisasi

Peremajaan vagina sendiri adalah prosedur perawatan yang mencakup seluruh bagian organ intim wanita. Hal ini diterangkan oleh ahli bidan dan kandungan, dr Ni Komang Yeni Dhanasari, SpOG.

“Walaupun disebut dengan peremajaan vagina, sebenarnya prosedur ini tidak hanya untuk area internal vagina saja, melainkan juga area eksternal meliputi area labia mayor, minorn dan klitoris,” ujar dr Yeni.

Baca Juga  Puskesmas Dinoyo Ajak Anak-anak Tanamkan Pola Hidup Sehat
Syarat dan Keamanan ‘Renovasi’ Vagina

Umumnya, prosedur ini dilakukan untuk meningkatkan kepercayaan diri wanita yang kemudian berimbas pada peningkatan kualitas hidup. Menurut dr Yeni, tak ada batasan usia untuk melakukan ‘renovasi’ vagina ini.

“Tidak ada batasan usia untuk peremajaan vagina. Selama ada indikasi, siapa saja boleh melakukan. Semua prosedur dilakukan tidak saat hamil dan biasanya tiga bulan pasca melahirkan serta boleh dilakukan pada ibui menyusui,” terangnya.

Meski demikian, perawatan ini cukup beresiko. Food and Drug Administration (FDA) –BPOM-nya Amerika- baru-baru ini mengeluarkan peringatan terkait prosedur peremajaan vagina dengan alat berbasis energi yang dikhawatirkan memiliki efek samping yang cukup serius. Beberapa seperti luka bakar pada vagina dan jaringan parut, hingga nyeri saat melakukan hubungan seksual.

Baca Juga  2040, Angka Harapan Hidup di Indonesia Cuma Ranking 6 di ASEAN

Selain itu, penanganan dalam peremajaan ini juga harus dilakukan dengan tenaga kompeten bersertifikasi dan juga alat yang sudah memiliki standardisasi sendiri. Hal ini disampaikan oleh pakar kandungan, dr. Yassin Yanuar Mohammad, SpOG (K), M.Sc.

“Jadi harus sangat hati-hati, siapa yang melakukan, alat yang digunakan. Sangat jarang jika baru sekali ketemu langsung treatment. Pasien konsultasi dulu, baru kemudian selanjutnya dilakukan treatment,” kata Yassin.


Penulis: Raka Iskandar
Editor: Raka Iskandar

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.