2040, Angka Harapan Hidup di Indonesia Cuma Ranking 6 di ASEAN
Ilustrasi usia harapan hidup @Media Indonesia

MALANGTODAY.NET – Angka harapan hidup masyarakat dunia diprediksi akan mengalami kenaikan hingga 4.4 tahun pada tahun 2040 nanti. Hal tersebut telah dikonfirmasi sebelumnya melalui penelitian yang diterbitkan oleh jurnal The Lancet. Dalam penelitian ini, Indonesia menduduki peringkat 6 dengara dengan harapan hidup tertinggi se-Asia Tenggara.

Dikutip dari Kompas.com, Rabu (24/10/2018), penelitian tersebut memperhitungkan sejumlah faktor yang memengaruhi kesehatan. Beberapa hal seperti merokok, indeks massa tubuh, air bersih, dan kondisi sanitasi yang baik dipadukan dengan variabel lainnya seperti pengukuran kesuburan, pendapatan, dan pendidikan.

Baca Juga: Wah! Panjang Jari Tangan Bisa Menunjukkan Orientasi Seksualmu, Loh

Di Asia Tenggara, peringkat pertama negara dengan angka harapan hidup tertinggi diduduki oleh Singapura dengan usia 85,41 tahun. Negara yang dulunya bernama Tumasik ini unggul jauh dari posisi kedua yang dihuni oleh Thailand yang mencatatkan usia 80,20 tahun. Indonesia sendiri berada di peringkat 6 dengan 76,77 tahun, kalah dari Timor Leste yang memiliki angka harapan hidup sedikit lebih tinggi di 77,41 tahun.

Sementara itu, angka harapan hidup tertinggi di dunia pada 2040 diprediksi jatuh kepada Spanyol dengan rata-rata 85,8 tahun. Capaian tersebut melampaui Jepang yang biasanya diklaim sebagai negara dengan harapan hidup tertinggi dunia.

Adapun negara adidaya Amerika Serikat (AS) justru mencatatkan penurunan yang cukup signifikan. AS menjadi negara berpenghasilan tinggi yang menjadi negara dengan angka harapan hidup terendah dengan hanya 79,8 tahun. Salah satu faktor yang memengaruhinya adalah tingkat obesitas tertinggi yang mencapai 39,8 orang dewasa.

Baca Juga: Tinggalkan Alat Cukurmu! Begini Cara Alami Hilangkan Bulu Ketiak

Peneliti utama Dr. Christopher Murray mengungkapkan bahwa ada kemungkinan terjadi ketidaksetaraan yang terus membesar. Bahkan bukan tidak mungkin, seseorang akan meninggal sebelum waktunya.

“Di sejumlah besar negara, terlalu banyak orang akan mendapatkan penghasilan yang relatif rendah, tetap berpendidikan rendah, dan meninggal sebelum waktunya,” ujarnya.


Penulis: Raka Iskandar
Editor: Raka Iskandar

Loading...