Ilustrasi @hellosehat
Ilustrasi @hellosehat

MALANGTODAY.NET – Jangan menganggap remeh sebuah kecemasan. Sebab, kecemasan bisa berdampak buruk bagi kesehatan seseorang. Tidak hanya menganggu mental, kecemasan juga bisa menyebabkan penyakit kronis, seperti jantung. Mengerikan!

Data dari Institut Mental Nasional Amerika Serikat mengatakan nyaris sepertiga dari populasi AS mengalami kecemasan. Jejak pendapat American Psychological Association pun membuktikan hampir 40 persen orang AS merasa lebih cemas di tahun 2018. Hal ini jauh lebih buruk daripada tahun sebelumnya.

Seperti dilansir dari Kompas.com, pada Minggu (28/4/2019) berikut cara mengantisipasi kecemasan yang menghampiri kita!

Lebih dekat dengan alam

Menurut sebuah riset, orang yang melakukan jalan kaki selama 50 menit di lingkungan alam mengalami penurunan kecemasan dibandingkan dengan orang yang melakukan jalan kaki (serupa) di lingkungan perkotaan.

Sebuah studi juga mengungkapkan bahwa dengan melakukan liburan atau traveling ke tempat-tempat alam, dapat membuah perasaan kita lebih bahagia. Jadi, ke mana list liburanmu minggu depan, Zens?

Bernapas dalam

Tahun 1970-an, ilmuwan dari Harvard bernama Herbert Benson membuktikan, melakukan pernapasan diafragma yang dalam sangat berguna untuk meredam kecemasan. Teknik ini, dinilai masih berfungsi hingga saat ini.

Beberapa praktisi yoga dan ahli kesehatan lainnya merekomendasikan teknik pernapasan ini untuk mengobati masalah kecemasan. Dasar dari semua ini adalah pernapasan diafragma.

Ternyata, pernapasan diafragma juga memiliki banyak manfaat ya, Zens? Yuk lakukan saban pagi!

Melakukan aktivitas fisik

Sudah bukan rahasia lagi bahwa olahraga memiliki segudang manfaat. Selain bisa menyehatkan tubuh, olahraga juga diklaim mampu menghilangkan kecemasa. Namun, banyak orang yang tidak menyadari manfaat ini.

Menurut Pedoman Aktivitas Fisik pemerintah AS, satu sesi aktivitas fisik sedang hingga berat, dapat mengurangi gejala kecemasan jangka pendek.

Latihan fisik teratur juga bisa mengurangi kecemasan jangka panjang. Yuk istiqama olahraga!

Sugesti diri dengan ‘Saya Bahagia!”

Penelitian dari Harvard menemukan orang yang memiliki kinerja lebih baik dalam berbicara di depan umu dan bidang matemarika adalah berbicara tentang kegembiraan kepada dirinya sendiri.

Sebuah riset membuktikan bahwa orang yang semangat memiliki nada, ritme, dan volume yang lebih baik daripada mereka yang diminta untuk mengatakan dirinya dalam keadaan cemas, tenang, marah, atau pun sedih.

Mulai sekarang, yuk sugesti diri kita dengan mengatakan ‘saya senang’, saya gembira’, dan ‘saya semangat’ lebih sering!

Kecemasan memang kerap menghampiri kita semua. Tapi, apakah kita akan larut dalam kecemasan itu? Enggak, kan, Zens? Yuk mari bahagia! (Bas)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.