Jepang Menyerah Pada Sekutu, Chairil Anwar Pahlawan Sebenarnya
Momen penyerahan tanpa syarat Jepang pada Sekutu @National Museum of the USAF

MALANGTODAY.NET – Bulan Agustus adalah bulan kemenangan bagi seluruh bangsa Indonesia. Pada bulan ini, perjuangan bangsa Indonesia menggapai kemerdekaan makin nampak semakin nyata. Puncaknya, 17 Agustus 1945 adalah hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang dibacakan oleh 2 tokoh dwitunggal, Soekarno dan Hatta.

Namun sebelum sampai di tanggal 17, momen detik-detik menjelang kemerdekaan Indonesia layak untuk diabadikan untuk menapaktilasi perjuangan bangsa. Salah satunya adalah apa yang terjadi pada 14 Agustus 1945.

Baca Juga: Selamat Hari Pramuka! Ini 5 Mitos Lucu Tentang Anggotanya

Pada hari itu, Jepang yang terus-terusan dirundung kekalahan di berbagai medan perang pada akhirnya memutuskan untuk menyerah pada Sekutu. Kaisar Hirohito selaku pemimpin tertinggi Jepang memutuskan untuk tidak ingin mengorbankan lebih banyak lagi bangsa Jepang dan dengan berat hati menyerah tanpa syarat pada Sekutu. Tak hanya itu, Nippon juga diharuskan untuk menerima syarat-syarat yang ditawarkan oleh Sekutu yang tercantum dalam Deklarasi Postdam.

Namun kekalahan Jepang ini tak benar-benar sampai ke seluruh daerah koloni Jepang. Bangsa Indonesia yang saat itu dijajah Jepang sejak 1942 tidak memiliki akses komunikasi dan informasi ke dunia luar karena telah diputuskan sebelumnya oleh tentara Jepang.

Peran Si Bengal dalam Kemerdekaan Indonesia
Peran Si Bengal dalam Kemerdekaan Indonesia
Chairil Anwar, disebutkan dalam beberapa riwayat sejarah sebagai tokoh kunci kemerdekaan Indonesia @Yellow Pencil

Salah satu kebijakan Jepang saat menduduki Indonesia adalah memutus seluruh aliran informasi dari dunia luar. Dengan kata lain, bangsa Indonesia benar-benar terisolir dari segala informasi manca negara.

Hanya beberapa orang yang benar-benar menjaga akses informasi dengan dunia luar. Dia adalah Sutan Sjahrir, seseorang yang kelak akan menjadi Perdana Menteri pertama Indonesia. Ia mendengarkan segala informasi internasional lewat radio Phillip yang didapatkannya dari keponakannya yang kelak akan menjadi penyair besar Indonesia, Chairil Anwar.

Radio tersebut dibungkus dengan rapi dalam kain batik sehingga ketika sewaktu-waktu tentara Jepang datang menggeledah, Bung Kecil –julukan Sjahrir- tak akan takut untuk disita. Ia mendengarkan dengan baik setiap detail informasi internasional seputar Perang Dunia II yang nantinya akan disampaikan pada pemuda loyalis Sjahrir di Menteng 31.

Saat berita penyerahan tanpa syarat Jepang kepada Sekutu menyebar di dunia dan Indonesia terisolir dari itu semua, Sjahrir dengan jeli mendengaran pesan tersebut. mendapatkan kabar bahwa kemenangan akan segera diraih, ia memerintahkan keponakannya, Chairil Anwar, untuk menyampaikannya pada kelompok pemuda di Menteng 31.

Baca Juga: Mengenang Tembok Berlin, Simbol Penindasan Komunis di Jerman

Menjadikan Chairil sebagai perantara adalah hal yang cerdik. Chairil merupakan pemuda dengan ingatan luar biasa hebat sehingga Sjahrir tidak perlu menyerahkan surat yang berisi pesan tertulis. Cukup dengan mengatakannya, Chairil akan mengingatnya dengan baik. Bahkan jika Kenpetai menginginkan pesan itu, maka ia harus membongkar isi kepala Chairil karena Chairil bukan tipikal penakut yang mudah menyerah begitu saja pada Jepang.

Dan pada akhirnya, pesan tersebut sampai ke pemuda Menteng 31. Dan kita tahu bagaimana kelanjutan cerita sejarah mencatatnya.


Penulis : Raka Iskandar
Editor : Raka Iskandar