Jeffry Hadi, seniman jalanan yang berhasil jadi pengusaha. (Pipit Anggraeni)

MALANGTODAY.NET – Perjalanan Jeffry Hadi berkeliling Indonesia dengan mengandalkan kemampuan melukisnya penuh diwarnai perjuangan keras. Salah satu dengan menjadi seorang penambal ban untuk hidupnya.

Perjalanan  Jeffry dimulai dari titik nol di ujung barat Indonesia hingga Papua di ujung timur Negeri ini. Selama tujuh bulan waktu dihabiskan untuk perjalanan sepanjang Sumatera.

“Usai dari Jambi ke beberapa kota di Sumatera, hingga setelah tujuh bulan mengitari Sumatera kembali ke Jakarta. Waktu itu tepat hari raya Idul Fitri,” kata Jeffry Hadi, saat ditemui di Brawijaya Edupark, Jumat (10/3).

Merasa tidak begitu betah di rumah, Jeffry kembali berkelana dan memilih mengeksploitasi wilayah Jawa Barat dan dilanjutkan ke Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Lombok, NTT, hingga Sorong Papua.

Setelah hampir dua tahun, ia pun kembali memilih pulang ke Jakarta. Namun tak lama, ia memutuskan ke Kota Malang, tepatnya pada tahun 2014. Sampai sekarang, ia pun betah untuk menjalani aktivitasnya di kota pendidikan ini.

Jeffry Hadi bersama karyanya. (Pipit)

Selama di Malang, ia awalnya hidup ngemper. Berjualan jasa sketsa wajah di beberapa titik kota seperti Stasiun Kota Baru, pasar minggu di Idjen Boulevard, hingga daerah wisata Batu.

Menariknya, setiap satu minggu sekali ia sering berjalan kaki ke Batu pulang dan pergi ketika hendak berjualan di sana. Hanya ketika ada ongkos saja lah ia naik angkot untuk melakukan perjalanan.

“Sabtu biasanya saya berangkat pagi, sekitar empat jam ke Batu. Di sana saya sampai malan, karena alun-alun malam hari pasti ramai. Jam sebelas malam saya balik Malang, nyampe Stadion Gajayana jam dua pagi, ya sudah tidur di sana, Minggu paginya buka lapak di Pasar Minggu,” katanya.

Ketika menawarkan sketsa ke salah seorang di parkiran Jatim Park, dia pun tak sengaja bertemu dengan seorang pria. Dia pun menawarinya, dan ternyata adalah salah satu pembesar Jatim Park Group itu tertarik dengan hasil sketsanya. Sehingga dia pun ditawari untuk menggambar di Museum Angkut dan Jatimpark.

Foto karya Jeffry Hadi yang dimaperkan di dinding. (Pipit)

“Di situ lah awalnya, saya nggak tahu awalnya kalau yang saya gambar itu orang Jatim Park awalnya,” tambahnya sembari tersenyum.

Kemudian, lanjutnya, ia pun bersama sahabatnya, Mike Yusak diberi kesempatan menempati dan mengelola Galeri di area Brawijaya Edupark yang sebelumnya dikenal sebagai taman wisata Senaputra yang ada di tengah Kota Malang.

Sekarang, ia pun sering menerima order dari banyak pengusaha untuk menghiasi beberapa tempat usaha. Budget yang didapat pun sudah mencapai jutaan rupiah dalam setiap satu proyek yang digarapnya.

“Karena suka menggambar sejak masih kecil, ya sampai sekarang saya nggak pernah bosan dan selalu senang,” urainya.

Semasa masih kecil pun, ia senang menggambar. Namun karena tak memiliki banyak uang untuk membeli buku gambar, maka sang bunda sering membelika tanggalan bekas dengan jumlah besar dan dia gunakan untuk menggambar pada area belakang yang masih putih.

“Dapet buku gambar pas ulangtahun doang dulu,” katanya.

Menariknya, sampai sekarang gambaran masa kecil yang terinspirasi oleh seniman legendaris, Tino Sidin pun masih rapat disimpan dengan baik. Termasuk juga dengan perjalanannya selama beberapa tahun mengelilingi Indonesia dengan caranya melukis yang juga disimpan rapi.

Berikan tanggapan Anda

Komentar Anda

Balas

Please enter your comment!
Please enter your name here