Jeffry Hadi, seniman jalanan yang berhasil keliling Indonesia dengan melukis (Pipit Anggraeni)

MALANGTODAY.NET – Jeffry Hadi berhasil keliling Indonesia dengan melukis. Titik nol ujung barat hingga ujung timur negeri ini pun sudah pernah disinggahi.

Meski tidak memiliki modal layaknya traveler lain, toh Jeffry mampu menginjakkan kakinya dan menyaksikan langsung, keindahan dan kekayaan Indonesia.

Mungkin sebagian dari kita sudah tak asing dengan pria berperawakan ceking ini. Karena dalam beberapa perhelatan besar di Kota Malang kerap terlibat.

Kalau kita ingat, beberapa tahun lalu Malang pernah menggelar festival seribu topeng, ia pun ikut andil di belakangnya. Selain itu, yang pernah main di Museum Angkut tentu pernah dong narsis di depan mural Gengster Town? Iya, dia salah satu seniman yang terlibat mempercantik salah satu objek wisata di Kota Batu itu. Termasuk beberapa coretan indah di Jatim Park, ia pun terlibat di dalamnya.

Kini, ia juga disibukkan dengan beberapa pekerjaan menggambar lainnya. Beberapa keindahan cafe di Malang, ternyata juga karya dari jemarinya.

Jeffry Hadi bersama lukisan hasil karyanya. (Pipit Anggraeni)

“Sekarang yang lagi saya kerjakan Cafe di daerah Idjen,” katanya ketika ditemu MalangTODAY.net di galeri bersamanya di Brawijaya Edupark (dulu dikenal Senaputra), Jumat (10/3).

Sebelum pada titik sampai sekarang, lulusan STM ini ternyata mengalami perjalanan yang cukup panjang. Kisahnya dimulai sejak akhir 2011 silam, di mana ketika itu ia memutuskan berkelana keliling Indonesia. Tak ada modal rupiah, tapi ia mengandalkan kemampuannya menggambar untuk menyambung hidup di daerah orang lain.

Perjalanan pertamanya dimulai dari Jakarta menuju Pulau Sumatera, ketika itu tujuan pertamanya adalah Jambi. Tak lama di sana, ia kembali melanjutkan perjalanannya ke Aceh dengan menumpang truk. Dia pun melanjutkannya ke Medan dan Pekanbaru.

“Di sana saya menawarkan kemampuan saya menggambar, per kepala saya tawarkan Rp 40 ribu,” ceritanya sembari tertawa.

Perjalanan yang ia tempuh di setiap daerah ternyata tak sama. Di sebuah daerah, ia bercerita sempat menjadi sangat makmur dengan profesi menggambarnya. Tapi di kota yang tak bersahabat dengan karya seni, ia pun harus gigit jari. Karena tak satupun yang tertarik dengan karyanya.

Seperti yang dialaminya ketika singgah di Batam misalnya. Ekspektasinya tentang Batam pun terpatahkan. Karena di kota industri itu, tak sepeserpun ia mendapat pundi rupiah.

Akhirnya, dia pun memutuskan bekerja menjadi tukang tambal ban selama dua minggu di Batam. Sebagai imbalannya, tiket perjalanan kembali ke Jambi, dan uang sebesar Rp 80 ribu.

“Beda sama di Makasar, di sana saya kaya, hahaha.. Sampai bisa beli vespa waktu itu,” kenangnya.

Berikan tanggapan Anda

Balas

Please enter your comment!
Please enter your name here