Gerhana Bulan dan Tradisi Orang Pedesaan di Jawa
Ilustrasi gerhana bulan@Tribun

MALANGTODAY.NET – Setelah sekian lama, fenomena gerhana bulan total akan kembali menghampiri bumi, khususnya Indonesia pada Rabu (32/1) malam. Super blue blood moon atau gerhana bulan total itu diprediksi akan dapat dilihat di seluruh wilayah Indonesia sekitar pukul 19.52 WIB.

Selain karena memang terjadi setiap sekitar 100 tahun sekali, fenomena alam tersebut juga banyak menarik perhatian masyarakat Indonesia melalui berbagai tradisi yang dimiliki. Di berbagai daerah, masyarakat memiliki kebiasaan khusus saat gerhana bulan terjadi.

Mulai dari slat gerhana bulan berjamaah, berdoa bersama, mandi besar, hingga membangunkan pohon. Masing-masing tradisi yang dilaksanakan pun sudah jelas memiliki maksud tersendiri, dan semua memang berlangsung secara turun temurun.

Baca juga: Fakta Persidangan Ahok dan Veronica Tan, Nomor 3 Bikin Kaget!

Bagi orang pedesaan di Jawa, fenomena gerhana bulan total tak hanya dinilai sekedar sebagai fenomena alam semata. Orang Jawa percaya, jika fenomena tersebut sangat erat kaitannya dengan kondisi alam saat ini dan pada masa yang akan datang.

“Sejak dari dulu kami percaya, jika gerhana bulan atau gerhana matahari merupakan sebuah peringatan dari Tuhan untuk manusia. Tapi semua tergantung masing-masing individu yang menilainya,” kata salah seorang tokoh adat di Desa Pandanajeng, Kecamatan Tumoang, Kabupaten Malang, Tikno pada MalangTODAY, Rabu (31/1).

Fenomena gerhana bulan Total itu menurutnya bisa saja menjadi pertanda bahwa dalam waktu dekat akan ada kondisi alam yang tak bisa dibendung, seperti bencana alam. Selain itu, peperangan batin dan perbedaan pendapat antar pemimpin juga sangat mungkin terjadi.

“Itu bisa pertanda fenomena alam atau fenomena sosial. Mungkin berkaitan akan gagal panen atau kondisi politik yang goyah,” jelasnya lagi.

Baca juga: Unggul Selisih Gol, Arema FC Lolos 8 Besar Piala Presiden

Leboh lanjut bapak dua anak ini menjelaskan, selama ini masyarakat memiliki tradisi yang berbeda ketika menyambut gerhana bulan. Di Jawa sendiri, ritual dan tradisinya pun sedikit memiliki perbedaan antara daerah satu dengan yang lainnya.

Sementara untuk penduduk di desa tempat ia tinggal, menurutnya ada kepercayaan jika saat gerhana bulan akan ada makhluk yang dapat mengambil bayi yang tengah di dalam kandungan. Baik bayi yang ada di dalam kandungan perempuan hamil ataupun seekor binatang seperti sapi, kerbau, dan kuda.

Itu sebabnya, lanjut Tikno, setiap gerhana bulan terjadi, para ibu yang tengah mengandung diharuskan mandi saat itu juga. Sedangkan binatang peliharaan seperti sapi, kuda, dan kerbau yang tengah hamil akan di ‘awui’, atau dibasuh dengan abu hasil pembakaran di seluruh bagian perutnya.

“Jika tidak, maka bayi yang ada di dalam kandungan akan diambil oleh Batara Kala. Seperti itulah kepercayaan kami selama ini,” papar pria berusia 49 tahun itu.

Baca juga: Melihat Eksotisnya Jeruk Pamelo Merah

Dia juga menyampaikan, ketika gerhana bulan terjadi pada tanggal satu dalam bulan hitungan Jawa, maka para perjaka dan perawan juga diharuskan mandi besar. Hal itu diyakini agar para pemuda dan pemudi tidak terkena balak.

“Jika Gerhana Bulan selalu terjadi di tanggal satu dalam hitungan jawa, maka siapapun yang belum menikah harus mandi besar. Tapi untuk Gerhana Bulan saat ini jatuh di tanggal 14 Jumadilawal tahun Dhal (penanggalan Jawa),” pungkasnya.

Meski sudah memasuki era globalisasi, tradisi yang sudah ada sejak masa nenek moyang itu masih terus berlanjut sampai sekarang. Sebagian besar masyarakat pun masih tetap memilih menjalankan tradisi tersebut sebagaimana yang disampaikam oleh nenek moyangnya.

Loading...