MALANGTODAY.NET– Senyum dua gadis berjilbab itu menyambut wartawan koran ini ketika tiba di Oksigen Kafe kemarin sore (30/7/2019). Mereka adalah Septiani Lukita dan Eka Aprilda Astrid, mahasiswi UMM yang baru saja memenangkan Festival Film Mahasiswa Indonesia (FFMI) 2019 di Bandar Lampung pada 20 Juli lalu.

Tak mudah memenangkan event yang digelar Direktorat Jenderal (Ditjen) Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemenristekdikti kerja bareng IIB Darmajaya itu. Lukita, Astrid, dan kelima temannya di UMM itu bersaing dengan 130 film dari berbagai kampus di Indonesia.

Film pendek ini melibatkan 28 pemain. ”(Juara I FFMI 2019) ini kami persembahkan buat semua. Dua puluh delapan kru yang juga teman-teman siswa SMP,” ujar Astrid sambil membuka laptop berisi filmnya.

Apa yang membuat film garapan mahasiswa semester delapan ini spesial sehingga menyabet penghargaan di ajang FFMI 2019? Lukita menjelaskan, film berjudul Kim Soo Ri tidak sekadar produk seni. Tapi, juga punya misi mulia. Yakni, menggugah kesadaran remaja Indonesia, betapa pentingnya mengenal budaya sendiri.

Tokoh utama dalam film itu bernama Sri. Yang memerankan Sri adalah Ayu Amelia Sari, mahasiswi semester 8 Jurusan Pendidikan Matematika UMM. Sosok Sri begitu dominan di film tersebut.

Singkat cerita, ada guru pendidikan budaya di kelasnya yang mirip orang Korea. Sri sangat ”tergila-gila” dengan lagu dan film Korea. Termasuk juga senang melihat guru Korean Look yang diperankan oleh Rizky Dzulkifli Rizaldi.

Karena guru tersebut mengajar mata kuliah pendidikan budaya, dia meminta Sri menyanyikan lagu ”Rayuan Pulau Kelapa”. Tentu saja, sang guru mempunyai alasan kuat kenapa memilih lagu tersebut. Bukan lagu lain.

Itu karena lagu yang dipopulerkan beberapa penyanyi Indonesia itu menyimpan pesan nasionalisme. Pentingnya menjaga Kesatuan Negara Republik Indonesia (NKRI). ”Tapi, Sri justru menyanyikan lagu Korea,” kata Lukita menjelaskan cerita dalam film tersebut.

”Kami melihat fenomena kecenderungan masyarakat terhadap budaya Korea. Bahkan, sampai anak SMP juga kenal lagu-lagu dan artis Korea,” tambah mahasiswi asal Sumenep itu.

Sebelum menggarap film tersebut, dia dan timnya melakukan riset. Selain mengedarkan kuesioner, juga mewawancarai siswa-siswi di Kota Malang. Hasilnya, banyak yang gandrung budaya Korea.

Mulanya, film tersebut tidak diperuntukkan lomba. Tapi, untuk memenuhi tugas perkuliahan. Total ada tujuh mahasiswa dalam satu tim. Selain Astrid dan Lukita, kelima mahasiswi lainnya adalah Wiji Handoko Putro, Vidi Astari, Tri Nur Hidayat, Inanti Laelatul Qodari, dan Rizki Rizal Razak.

Astrid menjadi produser, sedangkan Lukita sebagai sutradara sekaligus penulis skenario. Sementara kelima temannya mayoritas editor dan penata gambar.

Mulai digarap pertengahan 2017, film itu rampung akhir 2017. Penggarapannya membutuhkan waktu sekitar enam bulan. ”Nama Kim Soo Ri itu ada maknanya. Kim itu nama marga yang paling banyak di Korea. Sedangkan Soo Ri itu pelesetan, orang Korea ndak bisa bilang Sri,” kata mahasiswi kelahiran 1997 itu.

Setelah skenario tuntas, dimulailah syuting. Waktu itu tim memilih SMPN 16 Malang di Arjosari, Blimbing, untuk lokasi syuting. Masalah mulai muncul karena tim kesulitan dalam penetapan character building. Untuk memasukkan karakter dalam skenario dibutuhkan kecocokan.

”Untungnya, ada teman-temannya yang Korean Look dan kebetulan mau diajak main film,” kata putri pasangan Farid Mulyono-Kustia Ningsih itu.

Setelah menemukan karakter tokoh yang cocok, dia mulai mengurus perizinan. Dia bersama timnya bekerja ekstra karena perizinan sempat terkendala. Selain harus mendapat izin dari Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Malang, juga meminta izin orang tua siswa yang diajak main film.

Film tersebut melibatkan 20 siswa kelas VIII SMPN 16 Malang. ”Sabtu kan hari libur, kami take-nya hari itu. Jadi, kami memohon agar siswa bisa ikut berperan, sampai-sampai siswa kami jemput ke rumah dan kami antar pulang setelah syuting,” kata alumnus SMAN 2 Sumenep itu.

Setelah rampung, film kemudian masuk proses editing. Karena ini merupakan tugas praktikum, maka film tersebut harus melalui uji kelayakan dari dosen pembimbing. Ketika uji kelayakan itu, dosen pembimbing meminta ada perbaikan untuk tayangan Sri yang menyanyi ”Rayuan Pulau Kelapa”.

”Jadi, kami terpaksa lakukan lagi  syuting itu pekan berikutnya. Ya, antar jemput lagi,” kata anak bungsu dari 3 bersaudara itu.

Belum selesai diuji kelayakan, masih ada uji publik. Yakni, diikutkan dalam lomba film di internal UMM. Setiap tahun prodi Ilmu Komunikasi UMM menggelar Pesta Film Anak. Jadi, di tahun 2017 itu ada 13 film yang ikut dalam festival internal kampus.

Setiap film dipertontonkan di hadapan publik. Mulai kru 13 film, dosen, dan penonton. ”Kami bersyukur film yang dibuat selama enam bulan ini dapat tiga kategori. Naskah skenario terbaik, penyutradaraan terbaik, dan penata suara terbaik,” timpal Astrid, mahasiswi asal Kalimantan Timur itu.

Setelah menang, kegiatan tim vakum. Mereka mulai bekerja lagi setelah mengetahui ada FFMI 2019. Sekitar Juni 2019. Astrid menyebut, Kim Soo Ri tidak serta merta dikirimkan dalam festival. Tapi, masih dilakukan editing dan pemotongan durasi, dari 15 menit 12 detik menjadi 10 menit saja.

”Itu kami lagi libur ya, tiba-tiba ada festival bertemakan Indonesia Gemilang. Menurut kami, Kim Soo Ri cocok ikut,” kata mahasiswi kelahiran 1997 itu.

Namun, informasi itu baru diketahui pada 15 Juni. ”Hari itu (15/6) merupakan hari terakhir pendaftaran,” ujarnya. Mereka sempat putus asa. Sebab, harus mengedit ulang. Tapi keberuntungan berpihak untuk Kim Soo Ri, batas akhir pengiriman diperpanjang hingga 20 Juni.

”Kami tahu itu kan pas hari terakhir. Lha kok kebetulan panitia memperpanjang waktu pendaftaran,” kata putri pasangan Andang Krisna Jaya-Siti Masitah tersebut.

Injury Time

Kesempatan perpanjangan waktu atau injury time tersebut tidak disia-siakan. Mulai dari pemotongan durasi, editing lainnya, hingga pelengkapan berkas pendaftaran disiapkan. ”Setelah proses editing selesai, kami cicil syarat-syarat pendaftaran apa saja. Akhirnya baru bisa kirim di hari terakhir,” kata alumnus SMKN 1 Sampit itu.

Dari sekitar 130 film, Kim Soo Ri masuk nominasi dalam festival yang diprakarsai Dikti-Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya itu. Tahap pertama, Kim Soo Ri lolos kurasi 60 besar. Selanjutnya lolos 20 besar. ”Setelah itu kami di-email. Dihubungi panitia untuk menyiapkan presentasi dan berangkat ke Bandar Lampung,” kata anak pertama dari dua bersaudara itu.

Dia dan Lukita berangkat ke Bandar Lampung pada 18–20 Juli 2019. Mereka mempresentasikan proses kreatif Kim Soo Ri. Mulai dari ide cerita hingga pra dan pasca produksi. Tidak sia-sia, film tersebut mendapat anugerah Ide Cerita Terbaik.

Pewarta : *
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Mahmudan

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.