Fakta Terbaru Terungkap, Nenek Moyang Kita Homo Erectus Punah Karena Malas
Manusia purba Homo Erectus (Istimewa)

MALANGTODAY.NET– Penelitian terbaru yang dilakukan oleh tim arkeologi dari The Australian National University (ANU) mengungkap adanya fakta terbaru terkait dengan nenek moyang kita Homo Erectus. Hasil penelitian yang sudah diterbitkan dalam jurnal ilmiah PLoS One menjelaskan kepunahan spesies manusia purba ini lantaran rasa malas mereka.

Tim arkeologi ANU memulai penelitiannya dengan melalukan penggalian untuk mengetahui jumlah populasi Homo Erectus selama Zaman Batu Awal di kawasan Semenanjung Arab. Dari kegiatan itu ditemukan fakta jika spesies manusia purba ini malas melakukan inovasi dalam membuat alat-alat sehari-hari dan pengumpulan bahan makanan.

Manusia purba Homo Erectus @http://www.navarroilustracion.com

Baca Juga: Sepintas Keren, Gaji Karyawan di Stasiun TV Nasional Bikin Kamu Ngelus Dada!

Ketua Tim arkeologi ANU Dr. Ceri Shipton mengatakan selain rasa malasnya, Homo Erectus punah lantaran ketidakmampuan untuk beradaptasi dengan perubahan iklim yang mungkin memainkan peran dalam spesies

“Mereka benar-benar tampaknya tidak mendorong diri mereka sendiri. Aku tidak mengerti bahwa mereka adalah penjelajah yang melihat ke cakrawala. Mereka tidak memiliki rasa ingin tahu yang sama seperti yang kita miliki.” kata Dr. Shipton seperti dikutip MalangTODAY dari laman phys.org, Selasa (14/08/2018).

Dr. Shipton menambahkan alat-alat batu yang diciptakan oleh Homo Erectus berkualitas jelek. “Untuk membuat alat-alat batu mereka, mereka akan menggunakan batu apa pun yang dapat mereka temukan tergeletak di sekitar kamp mereka, yang sebagian besar kualitasnya relatif rendah” ujarnya.

Peralatan batu zaman purba@Didier Descouens / Creative Common

Baca Juga: Memex Yang Lebih ‘Dalam’ dan Kalahkan Google, Seperti Apa Kemampuannya?

Hal ini berbeda dengan pembuat alat batu pada periode selanjutnya, termasuk Homo sapiens awal dan Neanderthal, yang mendaki gunung untuk menemukan batu berkualitas baik dan mengangkutnya dalam jarak jauh.

Dr Shipton mengatakan kegagalan untuk maju secara teknologi, karena lingkungan mereka mengering menjadi gurun, juga berkontribusi terhadap kematian populasi. “Mereka tidak hanya malas, tetapi mereka juga sangat konservatif,” tutup Dr. Shipton.


Penulis : Endra Kurniawan
Editor  : Endra Kurniawan

Loading...