Diremehkan Dalam Negeri, Karya Anak Bangsa Malah Tembus Internasional
Pengusaha action figure, Mike Yusak (Pipit Anggraeni)

MALANGTODAY.NET – Setiap tahun, karya anak bangsa selalu mendapat apresiasi luar biasa oleh masyarakat Indonesia. Tapi ternyata, masih ada beberapa juga yang tak mendapat dukungan dari pasar lokal.

Salah satunya dirasakan pengusaha action figure, Mike Yusak, yang mulai merintis usahanya itu sejak masih hidup di jalanan, tepatnya tahun 2013. Saat itu, tak satupun yang tertarik dengan karyanya. Tapi kini, beberapa tokoh yang ia buat pun banyak menarik customer kancah internasional.

Mulai dari Singapura, Hongkong, hingga Amerika Serikat. Usahanya memasarkan sampai seperti sekarang memang butuh waktu dan tak sendiri. Karena sekarang ia sudah memiliki tim solid dengan perusahaan yang ia namai Toy Elites Masterwork, sejak 2015 lalu.

Ketika ditemui MalangTODAY.net, Mike tengah mengotak-atik beberapa bahan untuk membuat sebuah tokoh yang dipesan oleh konsumennya. Ditemani beberapa peralatan, sebuah tokoh nmpak sudah hampir jadi.
“Karena basiknya suka komik sih, jadinya bikin action figure itu menyenangkan, bisa ngilangin stress,” katanya.

Menurutnya, awal membuat action figure ia tak berfikir untuk menjualnya. Namun hanya sekedar sebagai koleksi karena ketika membeli produk pabrik ia sempat merasa kurang puas dengan beberapa detail yang ada.

Karena merasa sangat penasaran, maka ia pun memilih untuk membuat dengan kualitas yang lebih baik, dan masuk dalam sebuah komunitas. Dari situ, ia mencoba menggali informasi dan mengeksplore kemampuannya dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi.

“Jadi belajarnya sendiri lihat-lihat di youtube dan lain sebagainya,” tambah pria asal Pekalongan ini.

salah satu action figure ciptaanya. (pipit)

Di tahun 2013 juga, ia masuk dalam komunitas action figure skala internasional dan banyak mendapat apresiasi. Karyanya pun kemudian dipesan oleh pembeli pada 2014 dari orang Singapura dan Jakarta.

“Saat itu lah saya mulai kenal dengan tim saya, dan lanjut kerjasama sampai sekarang,” tambah Mike.

Semua hasil karya yang dibuatnya itu merupakan tokoh super Hero Marvel. Jika dulu pembeli kebanyakan custom, maka saat ini dia memilih untuk melakukan produksi lebih banyak untuk beberapa seri yang dibuatnya.

“Tapi kebanyakan saya bikin yang klasik, serinya juga tidak banyak dan terbatas, tapi tetap hand made,” urainya.

Dia juga bercerita, ketika pertama kali menawarkan karyanya itu, ia memilih menawarkan dengan harga yang tak mahal. Sebab dirinya masih sangat psimis waktu itu.

Menurutnya, pesanan yang dibeli pembeli pertamanya ia lepas dengan harga Rp 750 ribu. Sementara saat ini, ia sudah dapat menjual produknya mulai dari Rp 750 ribu sampai Rp 6 Juta. Tergantung pada tingkat kerumitan serta jumlah produksinya.
“Untuk yang limited edition, maka harganya pasti akan lebih tinggi,” beber pria ramah ini.

Sementara untuk lama pengerjaan dari setiap karya yang ia buat, biasnya butuh antara dua minggu sampai satu bulan. Sebab dia benar-benar mau karyanya sempurna seperti yang ada pada kartun ataupun film.

“Nggak tahu ya, karena saya yang sangat detail atau bagaimana. Kadang pembeli sudah oke, kalau saya kurang pas maka saya minta waktu lagi,” tambahnya.

Mike menyebutkan, setiap karya yang dihasilkan pun tak hanya sekedar untuk memenuhi permintaan dan keinginan customer. Tapi juga lebih mengacu pada kepuasan dan kualitas dari setiap produk yang dihasilkan.

Terlebih bagi pecinta seperti dirinya yang memang sudah menaruh hati pada action figure sejak lama.
“Dan yang paling penting adalah konsistensi yang harus dijaga,” tambahnya.

Baginya tak ada kesulitan berarti selama ia mengerjakan setiap pesanan. Kendalanya mungkin hanya terletak pada lisensi. Di mana saat ini, satu karakter atau satu tokoh dibandrol mulai dari Rp 15 juta sampai Rp 30 jutaan. Berbeda dengan dulu yang lisensinya dalam bentuk series.

“Sekarang lebih mahal memang lisensi per tahunnya, dan kesulitan lain mungkin pada pendalaman karakter. Biasanya saya butuh waktu untuk riset, dari buku, film, dan lainnya,” urai Mike.

Sedangkan ntuk pemasarannya sendiri, menurutnya dilakukan secara online menggunakan media sosil. Seperti Facebook dan Instagram.

Berikan tanggapan Anda

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here