Ternyata Begini Asal Mula Kopiah Jadi Lambang Nasionalisme
kopiah yang dipakai bung karno @suratkabar.id

MALANGTODAY.NET – Kopiah atau peci memang menjadi salah satu penutup kepala yang paling banyak dikenakan oleh laki-laki Indonesia. Bukan hanya dikenakan saat akan beribadah, penutup kepala yang satu ini sampai sekarang juga menjadi simbol nasionalisme bagi bangsa yang merdeka di tahun 1945 ini.

Dalam berbagai acara kenegaraan, para pemimpin negara ini sejak dulu selalu mengenakan kopiah. Sejak presiden pertama Indonesia, yaitu Ir. Soekarno hingga presiden ke-tujuh, Joko Widodo kerap tampil mengenakan penutup kepala berbahan beludru hitam.

Baca Juga: Pasca Mendepak Kepala Sekolah, SMAN 2 Kota Malang Kembali Kondusif

Kopiah sendiri pada mulanya merupakan bentuk kerpus muslim yang banyak dikenakan oleh pria Jawa sejak abad ke 19. Penggunaan kopiah ini pun semakin menjadi lebih umum saat Soekarno mengenakannya sebagai lambang nasionalisme.

Hal itu diungkapkan Cindy Adams dalam bukunya yang berjudul “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”. Cindy menjelaskan jika kopiah sengaja dikenakan Soekarno dalam berbagai acara penting, termasuk saat dirinya masih berjuang melawan penjajahan.

Penggunaan kopiah tersebut karena kopiah dinilai sebagai penutup kepala yang kental dengan kehidupan masyarakat Bumiputera. Sehingga, sang proklamator ini memilih mengenakan kopiah sebagai identitas diri.

Baca Juga: Tim Menawan : Perempuan Harus dapat Tempat di Kota Malang

Sejak saat itulah, kopiah bukan hanya sekedar simbol dari religi, melainkan juga mewakili semangat nasionalisme bangsa Indonesia. Meski jauh sebelum Soekarno tak sedikit tokoh bangsa ini yang mengenakan kopiah sebagai salah satu identitas.

Masuknya bangsa Eropa ke Indonesia padadasarnya memang memberi banyak pengaruh pada perkembangan budaya masyarakat asli. Mulai dari budaya kuliner, bahasa, hingga gaya busana dipastikan mendapat pengaruh. Bahkan dalam berbagai sumber dikatakan jika para penduduk lokal yang ke barat-baratan kerap tampil dengan dandanan ala orang Eropa. Diantaranya untuk kaum pria yang sering mengenakan celana, jas, juga topi.

Denys Lombard dalam bukunya yang berjudul “Nusa Jawa Silang Budaya” menjelaskan, gaya berbusana orang Eropa sejak abad ke 19 mulai banyak diterima oleh pria Jawa. Namun tidak dengan para perempuan yang lebih banyak tampil dengan busana tradisional. Kecuali untuk segelintir perempuan yang tinggal di perkotaan, di mana saat itu mereka sudah mengenakan rok, gaun, dan blus.

Baca Juga  Ternyata Begini Asal Mula Kopiah Jadi Lambang Nasionalisme

Baca Juga: Serem! Ini 5 Hal Sepele Tentang Kamu yang Diketahui Google dan Facebook

“Tapi meski begitu, pakaian tradisional selalu dipamerkan wanita Indonesia saat acara resmi,” tulisnya.

Namun untuk segi penutup kepala, budaya bangsa Eropa ternyata tidak banyak diterima. Topi Eropa sangat jarang dikenakan oleh para pria, dan mereka cenderung mengenakan jas dengan penutup kepala berupa blangkon ataupun peci. Meskipun pada akhirnya peci menjadi lebih lumrah ketimbang penutup kepala tradisional lainnya.

Begitu juga dengan kebiasaan orang Eropa menanggalkan tutup kepala sebagai tanda rasa hormat, seperti saat menyalami atasan, masuk ke tempat suci atau mendengarkan lagu kebangsaan. Kebiasaan tersebut sama sekali tidak pernah dilakukan oleh pria Indonesia, dan menjadikan kopiah sebagai kesatuan.

Baca Juga: 8 Bahasa Ini Sering Digunakan di Dunia, Indonesia Termasuk Nggak Ya?

Sampai sekarang pun, foto resmi dari para presiden Indonesia juga wakil Presiden Indonesia, termasuk sebagian besar kepala daerah selalu tampil mengenakan penutup kepala berupa kopiah. Ketika mengenakan penutup kepala ini, orang asing pun sudah mengenalinya sebagai identitas dari bangsa Indonesia.


Reporter   : Pipit Anggraeni
Editor        : Dian Tri Lestari

Loading...