Klarifikasi oleh Kepala Dispendik Kota Surabaya (kanan) @IG surabaya
Klarifikasi oleh Kepala Dispendik Kota Surabaya (kanan) @IG surabaya

MALANGTODAY.NET – Belakangan viral mengenai video seorang bocah SD yang enggan pihak sekolah memanggil orang tuanya. Diketahui, kejadian tersebut terjadi di SDN I Balongsari, Surabaya.

Namun, berdasarkan penelusuran Pemkot Surabaya melalui Dinas Pendidikan Kota Surabaya hal tersebut tidak benar seperti apa yang disebarkan di media sosial.

“Mengenai hal ini, Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya melakukan klarifikasi terkait video itu, TIDAK BENAR,” tulis Pemkot Surabaya dalam akun Instagramnya @surabaya, Kamis (25/4/2019).

Kejadian tersebut memang benar terjadi di SDN I Balongsari. Namun, akar masalahnya berbeda. Siswa dalam video yang beredar tersebuat adalah RA. Sementara siswa yang menendang kepala sekolah adalah PP.

“Faktanya, video viral yang beredar dan kejadian patah tangan kepala sekolah adalah kejadian yang berbeda,” tulisnya kemudian.

RA dipanggil pihak sekolah karena ketahuan membawa rokok. Sedangkan PP bermasalah dengan kepala sekolah karena ia melanggar imbauan sekolah yang meminta seluruh siswanya mengenakan baju adat saat Hari Kartini.

Saat itu, saat Hari kartini, PP datang ke sekolah memakai pakaian dengan celana sobek-sobek dan rantai. Ia kemudian mengajak adik kelasnya, YS. Namun, YS segera berganti pakaian saat ditegur kepala sekolah.

Mengetahui hal tersebut, PP tidak terima dan marah kepada kepala sekolah. Kemudian, kepala sekolah berusaha meredam amarah PP. Namun, PP berontak dengan tidak sengaja kakinya menendang kepala sekolah.

“Setelah diamankan, ibu niatnya mendatangi PP waktu itu. Lah ketika didatangi, PP waktu itu mungkin masih emosi, pas dipegang kepalanya gitu, PP ini meronta dan kakinya nggak sengaja nendang kena badannya ibu. Ibu ini sudah tua dan ditendang anak sebesar itu langsung jatuh. Nah ketika jatuh itu tangannya yang kanan nahan pergelangan patah,” terang guru SDN I Balongsari, Munari dilansir dari Detik.com (24/4/2019).

Selain itu, waktu kejadian dalam video tersebut adalah satu bulan sebelum kejadian patah tangan kepala sekolah.

“Di video viral tersebut, siswa memang melakukan pelanggaran dan meminta agar tidak dipanggil orang tuanya. Kejadian ini sekitar sebulan sebelum insiden patah tangan Kepala Sekolah. Sedangkan insiden patah tangan Kepala Sekolah terjadi karena terjatuh saat perayaan Hari Kartini yang waktu lalu,” urai Pemkot Surabaya.

Sebelumnya, video ini menjadi viral ketika ada keterangan yang menyebutkan bahwa siswa SD tersebut menolak dipanggil orang tuanya. Alasan pemanggilannya yaitu karena siswa ini telah melawan kepala sekolah hingga menedang dan mengakibatkan pergelangan tangan kepala sekolah patah. (AL)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.