MALANG – Ada yang beda di depan tempat wisata Wendit, Desa Mangliawan, Pakis, Kabupaten Malang. Di sana terdapat dua baliho besar 2×4 meter yang bertuliskan “Ojok Didol Wenditku, Kembalikan Wisataku yang Dulu, Karena Lebih Mudah Aku Mengais Rezeki” dan “Wenditku Sayang, Wenditku Malang. Pegawaiku Terabaikan, Pedagangku Tersingkirkan, Kera-keraku Kelaparan. Mana Kearifan Lokalmu?”.

Dua baliho tersebut muncul atas inisiasi komunitas warga sekitar wendit, yakni Forum Peduli Masyarakat Mangliawan (FPMM) yang kawatir akan adanya kabar pengelolaan wisata Wendit akan diserahkan ke pihak ketiga atau investor.

Namun, perlu diperhatikan, kekhawatiran tersebut bukan dikarenakan mereka menolak investor yang datang ke tempat wisata di daerahnya. Sebaliknya, kata ketua FPPM, Iwan Yuliantono, pihaknya menerima kedatangan pihak ketiga itu.

“Siapa sekarang yang gak mau ada investor yang mau memperbaiki wisata Wendit ini. Ya kita pasti mau,” tuturnya.

Aslkan, lanjut ia, investor tersebut nantinya memperhatikan kesejahteraan warga sekitar yang selama ini terabaikan oleh pengelola saat ini, yakni Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Pemerintah Kabupaten Malang.

“Waduh kita ini yang punya Wendit turun temurun dari kakek nenek ini punya kami tapi gak pernah diperhatikan,” tutur Iwan yang juga menjabat sebagai ketua Karang Taruna Desa Mangliawan.

Selanjutnya, ia menjalaskan contoh pengabaian itu seperti hanya sedikit terpakainya para warga sekita Wendit untuk dipekerjakan di wisata tersebut. Bahkan, oleh pihak BLUD hanya dipekerjakan sebagai cleaning service.

“Ada delapan itu semua jadi tukang sapu-sapu. Yang lainnya dipegang sama pihak luar,” tuturnya.

Dengan ini, menurut Iwan, merupakan bentuk ketidakadilan dikarenakan harusnya kalau ada tempat wisata di suatu daerah musti memberdayakan sumber daya manusia di sekitarnya terlebih dahulu. “Harusnya itu 40 persen dari warga sekitar terus 60 persen dari warga luar tapi ini kan nggak,” ujarnya.

Selain masalah pekerjaan, ia berharap, jika nanti ada investor yang mengambil alih pengelolahan wisata Wendit bisa mengembalikan kearifan lokal yang telah lama menghilang.

“Kita kalau Lebaran tiba semua warga sini (Desa Mangliawan) pasti gruduk ke dalam Wendit jualan itu budaya kami. Tapi sejak 2010 kira-kira kita sudah dilarang. Ya harapannya bisa mengembalikan itu,” jabar bapak tiga anak ini.

Yang terakhir, Iwan mengatakan, investor nantinya bisa menghapus sistem pertiketan Wendit saat ini yang merugikan warga Desa Mangliawan, yakni harus menunjukan KTP terlebih dahulu sebelum memasuki Wendit.

“Dari dulu itu gak ada harus nunjukin. Kami itu ingin dihapus seperti itu. Orang ini punya kita dari dulu kita gak bayar buat mandi dan sebagainya. Kok sekarang ada KTP dan dicatat segala. Kami ingin itu dihapuskan,” jelas Iwan.

Untuk itu, Iwan berharap, investor nantinya yang mengelola Wendit mampu bekerjasama dengan warga sekitar demi kenyamanan bersama.

“Itu kami berharap begitu. Kami bukan menolak. Ini aksi damai bukan karena apa. Tapi kami tak pernah diajak komunikasi oleh pihak Pemkab ataupun investor,” pungkasnya.

Pewarta: Bob Bimantara Leander
Penyunting: Kholid Amrullah
Foto: Bob Bimantara Leander

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.