viva.co.id

 

Beberapa waktu lalu, masyarakat Indonesia digegerkan dengan kebijakan Pemerintah Indonesia yang mengimpor cangkul dari negara Cina. Kali ini Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito mendatangi Menteri Perindustrian, Airlangga Hartanto untuk membahas persiapan dalam menemani Presiden Joko Widodo melawat ke Australia pada 6-8 November mendatang.

“Kami akan ke Australia mendampingi presiden, dan ada beberapa bahan serta materi yang akan didiskusikan di sana. Ada permintaan dari Australia, dan tentu ada juga permintaan dari kami,” ungkapnya dilansir dari viva.co.id.

Bahan dan materi diskusi meliputi kepentingan industri. Sehingga, menurut Enggar, perlu adanya masukan dari Menperin, untuk menyeragamkan kepentingan, pemikiran, dan sikap.

Pokok bahasan yang akan dibicarakan di Australia adalah mengenai impor gula mentah dan biodiesel. Impor gula, dijelaskan Enggar, terkait tarif bea cukai impor untuk Australia.

Ada harapan dari Australia, tarif bea cukai impor gula disamakan dengan tarif yang diberlakukan Indonesia untuk negara ASEAN, yaitu lima persen.

Australia berada di posisi kedua negara pemasok gula mentah ke Indonesia dengan volume 887.888 ton atau senilai US$396 juta. Posisi pertama yakni Thailand, dengan volume 1,5 juta ton atau senilai US$674 juta (data 2014).

“Kalau seandainya ada permintaan dari Australia untuk disamakan dengan ASEAN (bea masuknya), Menperin menyampaikan, kita bisa minta kompensasi untuk biodiesel,” ujar Enggar di Jakarta, Jumat 28 Oktober 2016.

Airlangga mengatakan, selama ini komoditas biodiesel Indonesia tidak dapat masuk ke Australia, karena terhalang tarif bea cukai hingga 100 persen.

 

Berikan tanggapan Anda