Ibarat temu pengantin, dua jenis kopi dipertemukan terlebih dahulu dan diarak bak pengantin sungguhan

BLITAR – Sebuah biji kopi ternyata punya sejarah panjang perjalanan hingga menjadi bubuk kopi siap minum. Bak manusia dengan usia yang sudah matang, dua biji kopi yakni Joko Gondel, mempelai pria dan mempelai wanita, Sri Gondel, Rabu, (17/7) pagi tadi “dikawinkan” dalam acara Parade Spiritual dan Upacara Panen di Perkebunan Kopi Sengon-Kawisari di Perkebunan Sengon , Desa Ngadirenggo, Wlingi, Kabupaten Blitar.

Iring ringan mempetemukan mempelai kopi laki laki Joko Gondel dan pempelai peremen puan Sri Gondel

Diadakan di bawah lereng Gunung Kelud, dua mempelai yang sejatinya merupakan biji kopi hari ini dipertemukan layaknya prosesi temu manten di Jawa pada umumnya.

Tari petik kopi, kembar mayang yang dibawa dua pagar bagus dan pagar ayu yang masih perawan dan juga perjaka, lengkap dengan lagu-lagu iring-iringan manten mewarnai masuknya prosesi temu Sri dan Joko. Usai bertemu, mereka diajak mengitari pabrik dan langsung menuju “kamar pengantin” mereka. Kamar pengantin ini sendiri adalah salah satu lokasi akhir dari pengolahan kopi di pabrik pengolahan kopi ini.
Sesepuh desa memetik kopi terbaik dengan ritual tertentu.

“Kegiatan ini memang diadakan satu tahun sekali pada waktu setiap akan musim panen kopi,” ujar Suparto, Pemimpin Perkebunan Kawisari-Sengon.

Kamar pengantin mempelai kopi Joko Gondel dan Sri Gondel

Tujuan petik kopi yang dibuat seolah layaknya mantenan ini sendiri menurut Suparto hanya sebagai pengibaratan prosesi bertemunya biji kopi laki-laki dan perempuan.

“Kopi itu cuman satu jenisnya, hanya diibaratkan kopi perempuan dan laki-laki, sebelum masuk ke gudang pabrik. Nantinya disimpan di gudang selama satu tahun musim panen ini,” papar Suparno.

Tempat penyimpanan biji kopi

Joko Gondel dan Sri Gondel memang bukan tokoh nyata. Tapi, keduanya merupakan biji kopi terpilih yang memainkan peran paling penting dalam ritual memetik kopi yang disebut sudah ada sejak tahun 1870 silam.

Joko dan Sri adalah perwujudan buah kopi utama dan terbaik dari Perkebunan Kopi Kawisari-Sengon. Penduduk percaya bahwa buah dari perkebunan kopi yang terbentuk dari pernikahan antara Sri Gondel dan Joko Gondel melambangkan pembuahan antara putik dan benang sari yang ada pada keduanya.

Radarmalang.id yang datang bersama Hotel Tugu Malang berkesempatan langsung menyaksikan ritual sakral tahunan menandai dimulainya musim panen tahun 2019 ini.

Perkebunan kopi yang di antara Lereng Gunung Kawi dan Gunung Kelud ini bisa dibilang tertua dan terbesar di Indonesia. “Perkebunan kopi terbesar dan tertua di Pulau Jawa mungkin. Di sini luasnya mencapai 900 hektare,” ujar Public Relations Hotel Tugu Malang, Richard Wardana kepada Radarmalang.id di lokasi pabrik.

Biji kopi-kopi pilihan ini yang nantinya menjadi bentuk bubuk kopi pilihan, Kopi Kawisari. Dipilih dari biji terbaik, kopi Kawisari yang merupakan produk kopi premium yang dimiliki oleh Hotel Tugu ini siap dipasarkan dan dijual kepada pelanggan yang ingin menikmati kopi dengan peninggalan budaya yang masih terjaga baik dari tahun ke tahun.

Pewarta: Elfran Vido
Penyunting : Kholid Amrullah
Foto: Elfran Vido

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.