MALANGTODAY.NET Keputusan penyidik Polres Malang Kota yang tidak menahan terduga calo seleksi jalur mandiri disikapi serius oleh tim advokasi Universitas Brawijaya (UB).

Tim beranggotakan 6 ahli hukum itu berencana melapor ke Polres Malang Kota hari ini (18/7). Langkah tersebut ditempuh untuk memenuhi unsur pidana.

”Kalau memang harus melapor, besok (hari ini) kami akan melapor,” ujar Ketua Tim Advokasi UB Dr Prijo Djatmiko SH MSi kemarin (17/7).

Senin lalu (15/7) UB menangkap seorang pria terduga calo yang menawarkan masuk UB lewat ”jalur belakang”. Peristiwa tersebut berawal dari saat salah satu satpam UB melewati pintu masuk di sisi utara, akses menuju Jalan MT Haryono. Karena tidak berdinas, satpam tersebut tidak memakai seragam.

Diduga, pria yang mengaku bernama Mahliga Adi Kusuma, 23, asal Lamongan, itu sedang mencari korban. Ketika itu, Mahliga membagikan amplop berisi brosur penawaran penyedia jasa masuk UB lewat ”jalur belakang”. Sasarannya adalah pendaftar jalur mandiri yang melintasi pintu tersebut.

Karena tidak berseragam dinas, bisa jadi Mahliga menganggap satpam tersebut salah satu pendaftar jalur mandiri sehingga diberi brosur.

Setelah dibuka, brosur itu bertuliskan: ”Ada jalur belakang Selma UB 2019 sebelum pengumuman, mau? Dijamin LOLOS!! Pembayaran setelah pengumuman”. Di dalam brosur tersebut tercantum contact person yang bisa dihubungi, yakni 081292071010.

Curiga Mahliga merupakan salah satu calo, satpam tersebut lantas menghubungi Markas Komando (sebutan kantor Satpam UB).

Mereka lantas menangkap Mahliga di tempat kejadian perkara (TKP), lalu diserahkan ke Polres Malang Kota. Namun usai diperiksa, Mahliga dipulangkan dengan dalih tidak memenuhi unsur pidana.

Menurut Prija, terduga calo bisa dijerat pasal pidana. Yakni, Pasal 378 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) jo Pasal 53 KUHP, jo Pasal 88 KUHP. ”Bisa dijerat pasal percobaan penipuan,” kata dosen hukum pidana itu.

Dia menegaskan, Pasal 88 KUHP tentang pemufakatan kejahatan juga bisa diterapkan untuk menjerat terduga calo tersebut. ”Artinya, ada pemufakatan jahat di dalam situ. Sesuai pengakuan, kan pelakunya ada 10 orang,” kata dia.

Awalnya, Prija mengaku menunggu surat penghentian penyidikan perkara (SP3) keluar. ”Ternyata kok begini? Sebagai ahli pidana, saya melihat ulah oknum ini melanggar pasal KUHP. Jelas ini penipuan dan mencoreng UB seolah-olah ada jalur hitam,” tegasnya.

Dia meyakini, dilepasnya terduga calo ini menjadi pintu masuk sindikat calo justru bertambah besar. Sebab meski tertangkap, tidak akan dipenjara karena polisi menanggap tidak memenuhi unsur pidana.

”Dan oknum hanya dibebankan wajib lapor. Sampai kapan? Harusnya memberi efek jera supaya tidak ada kasus serupa,” kata dia.

Sementara itu, Rektor UB Prof Dr Ir Nuhfil Hanani AR MS menambahkan, seharusnya kasus calo ini diusut tuntas. ”Ini merugikan korban, saya kira jelas. Lebih jelas, kampus bisa tahu ”orang dalam” mana yang berani main-main begini?” tegasnya.

Dia mengancam akan memecat jika ada pihak internal UB yang terlibat. ”Ya sudah pasti itu (pecat). Tidak ada ampun bagi oknum seperti itu,” tandasnya.

Pewarta : Sandra Desi
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Mahmudan

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.