Polisi Periksa Kades di Kediri Terkait Pungli
ilustrasi @bimakini

MALANGTODAY.NET – Praktik pungutan liar (pungli) yang menjadi salah satu pemicu kerusuhan dan berbuntut insiden kaburnya ratusan tahanan Rutan Klas IIB Sialang Bungkuk, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau terungkap.

Hal tersebut diketahui dalam laporan Satuan Binmas Polresta Pekanbaru disebutkan bahwa hasil keterangan dari para penghuni rutan yang sudah diamankan kembali, akar permasalahan akibat adanya pungli terhadap narapidana.

Selain itu, beberapa keluarga tahanan, pasca kerusuhan, membeberkan praktik pungli yang dijalankan oleh petugas rutan dan penghuni sesama tahanan.

Seorang keluarga tahanan, Yusti (65) menyebutkan ia telah harus membayar Rp 7 juta supaya anaknya bisa pindah ke kamar tahanan baru, karena kamar sebelumnya telah disesaki penghuni lainnya.

“Saya membayar Rp 7 juta supaya anak saya pindah ke kamar tahanan korupsi di lantai satu. Tapi tidak langsung ke pegawai rutan, mereka gunakan tamping untuk mengumpulkan uang,” ungkapnya, Sabtu (6/5).

Semua kegiatan tahanan, lanjutnya, mulai dari besuk sampai untuk menerima kiriman baju dari keluarga, juga harus membayar pungli. Pungli tidak hanya uang, melainkan juga rokok.

“Anak saya setiap dibesuk, untuk melewati satu pintu yang dikunci harus menyetor satu bungkus rokok. Kalau mau menambah waktu besuk juga membayar Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu supaya diberi tambahan 15 menit. Penanda bayar adalah dengan bunyi bel,” tambahnya.

Ia menyayangkan tindakan pungli tersebut terjadi di rutan karena kehidupan di dalam rutan sangat memprihatinkan antara lain karena jumlah penghuni yang melebihi kapasitas.

“Kami sudah muak tapi tidak bisa mengadu karena anak saya ditahan. Tapi sekarang semua harus dibuka, apalagi sudah ada kerusuhan seperti ini,” jelasnya sebagaimana dikutip dari Antara.(zuk)

Berikan tanggapan Anda

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here