Usianya baru 14 tahun, tapi Nilna Murni Ningtyas sudah mengukir prestasi di tingkat internasional. Runner-up BMX C1 International itu juga mengharumkan nama Kota Malang dengan menyabet dua medali emas di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VI Jatim 2019 pekan lalu.

ARIS DWI KUNCORO

SIANG itu (17/7) terik matahari terasa menyengat pori-pori. Memasuki rumah di Gang 2 Kelurahan Lesanpuro, Kecamatan Kedungkandang, tampak seorang gadis mengayuh sepeda dengan kencang.

Dialah Nilna Murni Ningtyas, atlet sepeda Kota Malang yang baru saja mengukir prestasi di Porprov VI Jatim 2019 pekan lalu.

Di ruangan seluas 6×4 meter, tempat Nina ngerol (latihan menggunakan sepeda statis) itu, tampak beberapa peralatan olahraga. Mulai barbel berbagai ukuran, tali skipping, dan alat latihan lainnya.

Beberapa sepeda mulai jenis BMX, cross country, hingga yang spesial untuk downhill terparkir rapi di ruangan tersebut. Sepeda-sepeda itu adalah milik Nilna, sang ayah Sugianto Setyawan (Ho Ho), dan kakaknya Puspita Carolina.

Ya, mereka semua adalah keluarga atlet sport sepeda Kota Malang yang telah mengukirkan sebrek prestasi dari berbagai tingkat. Terbaru, Nilna menyabet dua medali emas di Porprov VI Jatim 2019 pekan lalu.

Di multi cabang olahraga itu, dia meraih medali emas dari BMX dan downhill. ”Itu kali pertama saya ikut porprov,” tutur Nilna sambil tersenyum.

Di debut pertama ini, bisa dibilang aksinya cukup bagus. Sebab, tidak mudah meraih double gold medal sekaligus dari tiga nomor yang diikuti.

”Saya ikut tiga (BMX, downhill, dan cross country). Tapi, yang XC (cross country) tidak dapat medali karena terjatuh,” kata Nilna saat menyelesaikan latihan.

Sebenarnya ada peluang mendapatkan medali sangat besar. Nilna sudah mendapatkan tempat start di depan. Namun, jatuh saat start berlangsung beberapa detik.

”Saya menabrak peserta di depan yang jatuh, lalu (pembalap) belakang saya mengambil posisi dari samping dan menyalip,” ungkap anak kedua dari pasangan Sugianto Setyawan dan Iis Darlis Setiyawati itu.

Nilna masih berusaha bangkit mengejar rival. Sayangnya, jaraknya terlalu jauh. ”Saya finis di posisi ke-7,” kata dia sambil menyeka keringat.

Meski gagal di XC, Nilna masih bisa berbangga. Sebab, menyabet dua medali emas dari BMX dan downhill. Untuk dua nomor ini, bisa dibilang dia jagonya.

Sebab, sudah sejak kecil Nilna belajar BMX dan mulai merambah downhill, ketularan dari ayah dan kakaknya. ”Mulai seneng sepeda sejak kelas III SD,” kata siswi kelas IX SMPN 27 Kota Malang itu.

Mulanya, dia pinjam sepeda BMX milik kakaknya, Carolina. Dari situ, dia mulai suka dengan BMX. Belum lagi, ayahnya yang akrab dipanggil Ho Ho juga mendukungnya.

Dukungan keluarganya itu yang membuat dia tidak hanya puas belajar BMX. Tapi, juga belajar downhill dan XC.

Sejak menjadi atlet sepeda, banyak medali yang sudah dia raih. ”Kalau tidak salah, kali pertama ikut kejuaraan di Blitar. Waktu itu masih kelas IV SD dan mendapatkan juara II di tingkat Jatim,” kata anak kedua dari tiga bersaudara itu.

Kala itu, Nilna harus bersaing dengan pembalap putra. Sebab, tidak ada kelas untuk putri. Hasil tersebut menjadi pelecut Nilna untuk bisa menjadi lebih baik lagi. ”Di Lumajang pernah menang, tapi lupa nama event-nya,” kata dia.

Gelaran BMX C1 International 2017 di Banyuwangi, Nilna juga mengukir prestasi. Di event rutin tahunan yang diikuti peserta dari Australia, Thailand, Malaysia, dan lainnya itu dia menjadi runner-up. ”Waktu itu di kelas saya, lawannya dari Indonesia semua,” kata dia.

Sementara di Temanggung BMX Championship 2017 yang pesertanya dari seluruh Indonesia, Nilna meraih juara I. Sedangkan saat kejuaraan provinsi di Kota Malang pada 2018, Nilna menyabet juara di podium utama. Dia meraih juara I.

”Saat itu saya ikut kelas pra-youth,” ungkap Nilna.

Nilna yakin, keberhasilan yang selama ini dia raih tidak lepas dari latihan yang selama ini dilakukan. Mulai latihan sendiri, dilatih oleh ayahnya, sampai latihan di pemusatan latihan (puslat) oleh Ari Kristanto (pelatih BMX Kota Malang).

”Yang ngelatih pertama ya Ayah, tapi kadang saya yang malas dan dimarahi. Katanya (Ayah) kalau ingin jadi juara ya jangan malas-malasan,” kata dia.

Ucapan ayahnya itu menjadi penyemangat bagi Nilna.  Selama ini, hanya hari Minggu saja bisa menikmati libur latihan. ”Kalau Senin sampai Jumat latihan sore (di Velodrome). Kalau Sabtu pagi dan sore latihan,” kata gadis yang bercita-cita jadi anggota TNI dan atlet itu sambil tersenyum.

Pewarta : *
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Mahmudan

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.