JawaPos.com – Kementerian Perdagangan (Kemendag) baru saja melakukan perombakan pejabat eselon I. Salah satu yang mendapat perombakan adalah Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) yang kini posisi Dirjennya ditempati Dody Edward.

Posisi tersebut sebelumnya ditempati oleh Arlinda yang kini menempati posisi sebagai Staf Ahli Bidang Hubungan Internasional. Dody sebagai Dirjen PEN Kemendag yang baru menyebut bahwa meningkatkan ekspor saat ini masih menjadi fokus utamanya.

Sebagai informasi, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada Kamis (15/8) dilaporkan bahwa neraca perdagangan sepanjang Juli 2019 mengalami defisit sebesar USD 63,5. Nilai ekspor tercatat naik menjadi USD 15,45 miliar. Meski begitu, kenaikan nilai impor masih lebih tinggi yakni sebesar USD 15,51 miliar. BPS juga mencatat nilai ekspor Juli 2019 turun 5,12 persen secara tahunan dari USD 16,24 miliar menjadi USD 15,45 miliar.

Menanggapi hal tersebut, Dody mengamini bahwa secara neraca perdagangan, Indonesia memang masih lebih rendah (ekspor) dari pada impor. “Tapi kalau kita bicara ekspor nonmigas, kita masih surplus. Surplusnya memang masih lebih rendah jika dibandingkan dengan tahun lalu, tapi tetap surplus,” ujar Dody saat ditemui JawaPos.com di Jakarta, Jumat (16/8).

Dalam mendorong ekspor, Dody menyebut akan terus melakukan transformasi yang bersifat terobosan. “Kita akan terus mencari pasar baru tanpa meninggalkan pasar-pasar lama yang sudah ada,” imbuhnya.

Dody menambahkan, pasar negara nontradisional ke depan semakin penting dengan ekspansi ke wilayah tersebut. Di sana, persyaratan pasarnya dibandingkan dengan negara-negara maju lebih mudah dipenuhi.

“Di negara-negara nontradisional ini ekonominya masih tumbuh, beda dengan negara maju yang permintaannya sudah moderat, tidak seperti negara berkembang yang masih growing yang bisa jadi kesempatan buat kita,” lanjutnya.

Masih fokus soal mendorong ekspor, menurut Dody, saat ini seluruh negara fokus melakukan ekspor. Oleh karenanya, Indonesia dan industri di dalamnya diminta untuk mengembangkan pasar di lebih banyak negara, juga membuka perjanjian perdagangan internasional lebih banyak lagi untuk meningkatkan daya saing.

“Selain dari sisi pasar, kita juga mesti melakukan diversifikasi daripada pelaku ekspornya. Mencetak pelaku ekspor yang baru, meningkatkan value added kita sendiri. Produk kita masih didominasi oleh produk primer, di situ ada tugas kita untuk melakukan nilai tambah produk ekspor dan kita bisa masuk kepada global play good change,” ujarnya.

Bicara tantangan ekspor, Dody menyebut saat ini perang dagang Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok menjadi salah satu faktor turunnya angka ekspor. Selain sentimen perang dagang ada juga tantangan lainnya. “Tantangannya selain perang dagang ya ada hal lainnnya. Pertama harga komoditi, demand-nya yang terbatas karena banyak juga melakukan komoditi ekspor yang sama dan banyak lagi,” sebut Dody.

Untuk komoditi ekspor paling jadi primadona, menurut Dody, antara lain adalah mebel. Mebel disebut menjadi komoditi yang tinggi peminat untuk dipasarkan ke wilayah AS, Amerika Latin, Eropa, dan Timur Tengah.

Selain mebel, yang juga menjanjikan untuk ekspor adalah tekstil, food ware, kopi, crude palm oil (CPO). “CPO menjadi produk dominan karena kontribusinya yang sangat besar untuk pasar ekspor,” jelas Dody.

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.