PEKANBARU – Lembaga non profit, Aksi Cepat Tanggap (ACT) terus memantau perkembangan bencana asap sudah berlangsung lama dan belum ada tanda mereda yang signifikan. Kondisi ini mengakibatkan korban berjatuhan dan kehidupan masyarakat terganggu, suplai makanan semakin terbatas hingga ketiadaan aktivitas akibat gangguan kesehatan.

Berdasarkan Inarisk.bnpb.co.id, jumlah hutan dan lahan yang terbakar di seluruh Indonesia mencapai 328.722 ha dengan luas daerah bahaya hingga mencapai 86.102.324 ha dengan perkiraan kerugian secara ekonomi hingga hingga lebih dari Rp 59 triliun.

Kebakaran hutan yang melanda Sumatera dan sebagian Kalimantan mengakibatkan kualitas udara di tiap daerah terdampak masuk di kategori berbahaya, salah satunya Riau. Merespons kondisi ini, ACT Riau bersama Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) membagikan 2000 masker untuk warga di sana. Ribuan masker tersebut dibagikan kepada warga yang berlalu lintas di Jalan Sudirman, Persimpangan Tugu Zapin, Pekanbaru. Selain di Pekanbaru, masker juga dibagikan di sejumlah kabupaten/kota terdampak lainnya di Riau.

“Kami sudah membagikan ribuan masker di sejumlah titik terdampak kabut asap di Kota Pekanbaru sejak Senin (16/9) kemarin. Kabut asap yang menyelimuti kota Pekanbaru serta beberapa wilayah lain semakin pekat. Tentunya dengan kondisi kabut asap seperti ini masyarakat yang memiliki aktivitas lebih banyak di luar ruangan timbul kesadaran untuk menggunakan masker serta peduli terhadap kesehatan,” ucap Manahan, Ketua MRI Wilayah Riau.

Dalam prosesnya, pembagian masker ini juga dibantu oleh komunitas Warga Pasundan Riau. Lutfi dari komunitas tersebut mengatakan, kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian komunitas Wargi Pasundan Riau terhadap lingkungan Pekanbaru, Riau.

“Semoga kegiatan ini mampu menggerakkan masyarakat untuk peduli kepada lingkungan dan sesama. Kami juga berharap seluruh komunitas, lembaga, instansi serta seluruh lapisan masyarakat turut peduli,” pungkas Lutfi.

Hingga kini, kondisi ekonomi Indonesia juga ikut merugi karena dengan terjadinya karhutla ini, sumber devisa negara dari produk hutan kayu dan non-kayu, serta ekowisata juga berkurang. Hal ini karena kebakaran hutan menyebabkan berbagai kerugian untuk masyarakat Indonesia, mulai dari gangguan kesehatan, sosial, ekologi, ekonomi dan juga reputasi. Kerugian kesehatan adalah yang paling jelas. Asap dari kebakaran hutan menyebabkan berbagai penyakit, terutama infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Selain itu, berdasarkan data Bank Dunia pada tahun 2015, ada beberapa sektor yang terganggu dan mengalami kerugian. Sektor-sektor tersebut tidak hanya terkait pendidikan dan kesehatan namun juga terdapat sektor kehutanan dan pertanian, perdagangan/bisnis, manufaktur dan pertambangan, pariwisata, perhubungan, hingga pariwisata. Kondisi yang ada, jika tanpa dukungan dan inovasi penanganan, bisa menjadi sama buruknya dengan tahun 2015. Saat itu, wilayah terdampak seluas 510.564,21 ha dengan kerugian mencapai Rp 221 triliun atau setara dengan 1,9 persen PDB Indonesia.

Tidak ingin kondisi tersebut terulang, ACT terus mengajak masyarakat luas ikut andil dalam kampanye #BantuMerekaBernapas. Kampanye ini menjadi bukti nyata bahwa tim medis, tim tanggap darurat, hingga posko bencana asap ACT terus melakukan pelayanan bagi warga terdampak bencana kabut asap di berbagai wilayah. Kampanye #BantuMerekaBernapas menjadi semangat dalam menghidupkan kembali kebersamaan dalam aksi-aksi kebaikan.

Foto: istimewa
Penyunting: Fia

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.