KOTA BATU – Di Kota Batu, fenomena nikah muda ternyata cukup marak. Salah satu dasarnya bisa dilihat dari rekapitulasi di Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Batu.

Mulai Januari hingga akhir Juli lalu, diketahui ada 243 pengajuan pernikahan yang masuk. Dari total tersebut, 93 di antaranya masuk kategori nikah muda. Untuk diketahui sebelumnya, kriteria nikah muda tersebut sudah diatur dalam Undang-Undang (UU) Perkawinan Tahun 1974.

Untuk perempuan, usia minimum menikah yakni 16 tahun. Sementara laki-laki usia minimumnya 18 tahun. Di luar kriteria itu, masuk kategori nikah muda. Bila dipersentasekan, jumlah pengajuan nikah muda sepanjang Januari hingga Juli lalu berada di angka 38,83 persen. ”Menurut BKKBN, angka normalnya maksimal 10 persen,” terang Kabid Keluarga Berencana (KB) DP3AP2KB Kota Batu Eni Musfirotun.

Kepada Jawa Pos Radar Batu, dia juga menyebut bila rekapitulasi nikah muda di Kota Batu tahun ini menempati peringkat ketiga di Jawa Timur. Berada di bawah Kabupaten Probolinggo dan Kabupaten Sumenep.

Di flashback, Eni mengakui bila jumlah pernikahan muda di Kota Batu memang cukup tinggi dari tahun ke tahun. Pada 2018 lalu, pihaknya mencatat ada 1.773 pengajuan nikah. ”Dari total itu, 23 persen di antaranya masuk kriteria nikah muda,” kata dia.

Bila dijumlahkan, tahun lalu tercatat ada 407 pernikahan muda di Kota Batu. Dari pengamatan DP3AP2KB Kota Batu, ada beberapa faktor yang melatarbelakangi tingginya fenomena nikah muda tersebut.

”Kalau selama ini, penyebabnya adalah kultur masyarakat dan perilaku seks bebas,” tambah Eni. Dari beberapa kasus yang ditemui di lapangan, dia memaparkan bila beberapa warga masih kurang memahami bahaya nikah muda.

”Oleh karena itu, seperti dinas pendidikan (disdik) harusnya bisa sama-sama mengawal. Apakah angka pernikahan dini tersebut juga berimbas pada angka putus sekolah. Jika iya, harusnya bisa dibenahi bersama-sama,” harap dia.

Statement itu didasarkan Eni pada korelasi antara tingginya nikah muda dengan jumlah putus sekolah. ”Itu juga menjadi faktor pendukung, karena kebanyakan dari para siswa saat lulus SMP, mereka enggan melanjutkan ke jenjang selanjutnya, dan malah ingin menikah,” ungkapnya.

Menanggapi fenomena tersebut, Sekretaris Disdik Kota Batu Teguh Wijayanto turut berharap ada peran dari para orang tua siswa untuk mengawasi pergaulan anak-anaknya.

”Intinya sebisa mungkin orang tua juga peduli dengan masa depan si anak,” harap dia. Dia pun tidak menampik jika tahun 2017 lalu angka putus sekolah di Kota Batu cukup tinggi.

Dari jumlah lulusan SD/MI sebanyak 2.381 anak, pihaknya mencatat ada 74 anak yang gagal melanjutkan studi ke jenjang berikutnya.

”Sementara untuk tahun 2018 kemarin, angka putus sekolah mengalami penurunan yang cukup drastis. Hanya ada delapan siswa yang tidak melanjutkan. Jadi tentu itu bukan jadi faktor pendukung nikah muda,” tambah Teguh.

Fenomena nikah muda tersebut juga turut disoroti Wakil Wali Kota Batu Punjul Santoso. Senada dengan Teguh, dia berharap para orang tua mampu mengayomi anaknya. ”Yang jelas melalui dinas terkait sudah ada tindakan. Memang butuh penanganan yang tidak mudah, dan ini bukan tanggung jawab dinas pemberdayaan saja,” kata dia.

Pewarta : Miftahul Huda, nr10
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Bayu Mulya

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.