Menggunakan Simbol Agama untuk Kampanye Politik, Halalkah?
Ilustrasi kampanye (Istimewa)

MALANGTODAY.NE – Jelang pesta demokrasi, Pilkada dan Pilpres, tak jarang penggunaan simbol agama digunakan untuk berkampanye. Langkah tersebut memang sudah sangat sering ditemui, dan selalu dianggap paling efektif dalam menjaring suara.

Lantas yang menjadi pertanyaan, sebenarnya apakah boleh menggunakan simbol keagamaan untuk kepentingan dalam dunia politik?

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Malang, Ahmad Taufik Kusuma tidak membenarkan cara tersebut. Dia menilai, simbol agama bukanlah sebuah simbol yang hanya digunakan untuk kepentingan sesaat. Melainkan sebuah acuan yang harus digunakan sepanjang hayat dan hidup seseorang.

“Simbol agama tidak dibenarkan jika digunakan untuk kepentingan singkat yang hanya lima tahun,” katanya pada wartawan.

Kepentingan berbangsa dan bernegara menurutnya harus dipisahkan dengan sebuah keyakinan. Di mana Indonesia merupakan bangsa yang sangat kaya akan budaya memang seharusnya melibatkan seluruh masyarakatnya untuk berpartisipasi bersama.

Dia pun mengimbau agar para pemangku agama, terutama yang didelegasikan untuk masuk dalam FKUB dapat terus mendorong terciptanya siklus demokrasi yang stabil. Setiap umat bergama harus rukun dan turut berpartisipasi dalam membangun bangsa sebagai negara yang demokratis.

“Kita semua harus ikut serta dan jangan sampai apatis. Semua didorong untuk turut ambil bagian dari pesta demokrasi itu,” pungkasnya. (Pit/end)

Loading...