RADARMALANGID – Karakter Joker di film digambarkan menderita gangguan yang sering membuatnya suka tertawa meski dalam keadaan sedih, dan di waktu tertentu tanpa bisa dikendalikan olehnya.

Kondisi kejiwaan Joker ini disebut dengan Pseudobulbar Affect (PBA) yang merupakan istilah untuk penyakit mental terkait gangguan emosi. Pseudobulbar Affect (PBA) adalah suatu kondisi di mana seseorang tiba-tiba tertawa atau menangis tanpa dipicu oleh sebab apapun.

PBA juga disebut sebagai Pathological Laughter and Crying (PLC). Ada beberapa gejala yang menunjukkan terkena PBA.

Dilansir dari Mayo Clinic (11/10), gejala utamanya ditandai dengan perilaku berupa tertawa atau menangis secara berlebihan, namun tidak berhubungan dengan keadaan emosinya. Penyakit ini muncul karena gangguan yang terjadi pada syaraf.

Seseorang yang menderita PBA akan mengalami emosi normal, terkadang akan mengekspresikannya dengan berlebihan, tanpa sebab dan pada waktu yang tidak seharusnya.

PBA yang parah akan menyebabkan rasa malu, isolasi sosial, kecemasan hingga depresi, akibatnya, kondisi ini dapat mengganggu kehidupan sehari-hari. Gangguan PBA kerap kali tidak terdiagnosis karena sulit membedakannya dengan masalah emosional lain.

Terpisah, menurut Parkinsonnewstoday, PBA terjadi saat gangguan sistem syaraf memengaruhi area otak yang mengontrol ekspresi dari emosi, seperti korteks prefontal. Di samping itu, ada kemungkinan perubahan zat kimia di otak yang berkaitan dengan depresi dan suasana hati juga memengaruhi perkembangan PBA.

Perubahan tersebut dapat mengganggu sinyal di otak, memicu fase yang tidak dapat dikendalikan oleh penderitanya. PBA umumnya terjadi pada orang dengan kondisi neurologis atau cedera,, termasuk stroke, Alzheimer, Parkinson, Amyotrophic lateral screlosis (ALS), Multiple sclerosis (MS), tumor otak dan cidera otak otomatis.

Berdasarkan data National Stroke Association, lebih dari 1 juta orang memiliki Pseudobulbar Affect (PBA). PBA dapat memengaruhi orang dengan kondisi sistem sarag seperti Multiple Sclerosis (MS) serta dapat terjadi hingga 10 persen pada orang dengan MS terutama pada orang dengan Secondary Progressive Multiple Sclerosis (SPMS).

Penulis: Elsa Yuni Kartika
Foto: Istimewa
Penyunting: Fia

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.