Keterbatasan fisik (maaf, tunadaksa), bukan halangan bagi Oddie Kurnia Dwi Listyanto Putra untuk berprestasi tinggi. Dia menjadi atlet bulu tangkis yang lolos ikut ajang internasional, Tokyo Paralympic 2020, November mendatang. Ini semacam olimpiade untuk kaum difabel. Perjuangan sangat berat telah dia lalui.

MARTDA VADETYA

Usianya masih cukup muda: 23 tahun. Kondisi fisiknya juga tidak normal (satu tangan tak sempurna). Namun, dia kini sudah mengoleksi 17 medali dari kejuaraan bertaraf nasional hingga internasional.

Prestasi terbaru, dia menyumbang dua medali untuk Indonesia di ajang Asian Para Games Jakarta-Palembang 2018. Satu medali perak di kategori ganda putra dan satu medali perunggu di kategori tunggal putra.

Sebelum sesukses ini, dia harus melewati beragam ujian. Secara mental maupun fisik. Ujian mental karena dia sejak masih di bangku SD hingga remaja sudah di-bully teman sebayanya. Ini gara-gara kelainan pada saraf tangan kanannya yang diderita sejak lahir. Tangan kanannya tak bertenaga. Dan tak bisa lurus kecuali ada yang membantu menahan badannya.

Sulistyowati, ibunda Oddie, menjelaskan, kelainan saraf itu disebabkan oleh proses kelahiran yang tidak biasa. ”Gara-gara waktu dalam kandungan, tubuhnya sudah besar. Susah keluarnya. Dioperasi gak bisa, divakum juga gak bisa keluar. Akhirnya ditarik tangan kanannya itu, tapi dampaknya ya gini ini (kelainan saraf),” ungkap ibu dua anak itu.

Saat Oddie berusia dua minggu hingga enam tahun, dirinya rutin memberi terapi di rumah sakit. ”Setelah itu (usia lebih dari enam tahun), sudah gak terapi lagi. Karena kondisinya sudah membaik 70 persen lah daripada awalnya,” terang ibu pedagang kue itu.

Sejak anaknya masuk SDN Lowokwaru 3, Sulistyowati memang mengarahkan Oddie ikut latihan bulu tangkis. Agar anakanya tidak minder dan memiliki kelebihan di bidang lain walaupun ada kekurangan pada dirinya. Ke mana pun si bungsu itu bertanding, ibunya selalu mendampingi.

Jadi dia tahu sendiri ketika anaknya mendapat ejekan dari orang-orang di sekitar. ”Sering Mas (di-bully). Bahkan tetangga itu sampai ada yang bilang ’Oddie itu mau jadi apa main badminton, apa gitu itu dibayar?’ gitu Mas,” ujarnya sambil menirukan ucapan tetangganya.

Namun, dia tetap menguatkan diri agar sang putra terus tegar. Pria kelahiran tahun 1996 ini mengisahkan bahwa yang pertama kali memperkenalkan badminton dalam kehidupannya ialah sang ibu.

”Yang pertama kali ngarahin ke badminton itu Mama. Waktu kelas satu SD dulu, kira-kira tahun 2004-an lah,” kata Oddie.

Dia mengakui memang kerap minder. Waktu hari pertama masuk masa orientasi sekolah (MOS) saat duduk di bangku SMPN 18, kala itu dia sangat tak percaya diri karena kekurangan fisiknya. Saking mindernya, dia kerap menyembunyikan tangan kanannya ke dalam tas saat berjalan menuju kelas.

”Mereka (teman-teman dan gurunya) mulai tahu pas guru-guru nanya kenapa waktu dipresensi itu tangan yang diangkat kok yang kiri. Terus gurunya nanya dan dilihat langsung, oh ternyata ya memang sakit, gitu Mas,” kenangnya.

Tahu kondisinya tak normal, teman-temannya bukannya iba. Hal itu dia alami hingga SMP. ”Waktu di SD sudah mulai diejek gitu. Namanya masih kecil, ya saya kejar teman saya yang mengolok-olok itu,” terangnya.

Dia mengungkapkan bahwa dia sempat merasa kesulitan untuk bersosialisasi di lingkungan sekolahnya. Lantaran dikucilkan oleh teman-temannya. Bahkan ketika dia menekuni badminton, juga kerap diremehkan oleh lawan-lawannya. Apalagi kala itu dia bergabung dengan kelompok umum (pemain dengan kondisi normal).

Bahkan dia sempat mendapat penolakan saat ingin bergabung di pemusatan latihan daerah (pelatda) Kota Malang. ”Sempat mau ikut gabung ke pelatda tapi ditolak gara-gara kekurangan ini. Karena waktu itu kan Kakak juga lagi pelatda, jadi saya ingin ikut juga,” jelasnya.

Dari penolakan itu, dia merasa terlecut untuk terus mengembangkan prestasinya. Justru dia termotivasi ingin membuktikan kalau mampu mengalahkan mereka. Dia pun sukses menaklukkan atlet unggulan di pelatda yang notabene fisiknya normal (tidak cacat).

Dari situ, akhirnya dia diajak bergabung di Pelatda Kota Malang. Karena pelatih pelatda kala itu kagum dengan performanya yang di atas rata-rata.

Dari sini, karir badminton Oddie mulai menanjak. ”Salah seorang pengurus cabor bulu tangkis KONI Kota Malang ngarahin untuk gabung ke Badan Pembina Olahraga Cacat (BPOC). Yang sekarang jadi National Paralympic Committee (NPC) itu,” bebernya. Karena memang para disabilitas ini memiliki induk olahraga sendiri.

Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) 2008 merupakan ajang tingkat nasional pertama yang dia ikuti mewakili Kota Malang. Mulai dari situ dia akrab dengan ajang berskala nasional hingga internasional. Tahun 2018 dia membela nama Indonesia saat menjadi tuan rumah Asian Paragames Jakarta-Palembang.

Dia sumbangkan perak di kategori ganda putra SU5 dan satu medali perunggu di kategori tunggal putra SU5. ”Dari pemerintah dapat hadiah totalnya Rp 650 juta dan bisa diangkat jadi aparatur sipil negara (ASN) di Kemenpora. Alhamdulillah itu (jadi ASN Kemenpora) impian saya,” ungkapnya dengan wajah bahagia.

Dari bonus yang dia dapat tersebut, dia sanggup memenuhi nazarnya untuk memberangkatkan kedua orang tuanya umrah ke Tanah Suci. Dia juga telah membangun rumah.

Hingga saat ini, dia telah melanglang buana mengikuti kompetisi internasional mulai dari Malaysia, Korea Selatan, hingga Irlandia. Terdekat, November ini dia akan terbang ke Jepang untuk membela nama Indonesia di ajang Tokyo Paralympic 2020 Test Events (ini semacam olimpiade).

Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Abdul Muntholib

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.