RAPBD 2018 Disdik Kota Malang Tak Pantas, Dewan Beri Peringatan!
Ilustrasi sekolah @MalangTODAY/istimewa

MALANGTODAY.NET – Sistem “Full Day School” yang digagas oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Prof. Muhadjir Effendy pertengahan tahun ajaran 2016 lalu, kini akan mendaftarkan sekitar 10 ribu sekolah baik negeri atau swasta untuk ikut menerapkan sistem ini.

Staf Khusus Mendikbud Bidang Komunikasi Publik, Nasrullah di sela acara Focus Groups Discussion (FGD) Penguatan Media dalam Mensosialisasikan Kebijakan Mendikbud di Malang pada Sabtu (18/3) mengatakan pada tahun ini pagu sekolah yang ditargetkan bisa menerapkan sistem full day school hanya 1.200 hingga 1.500 sekolah.

“Namun yang mendaftar dan siap menerapkannya mencapai 5.000 hingga 10.000 sekolah, baik negeri maupun swasta,” ucapnya kepada Antara, Sabtu (18/3).

Ia mengakui konsekuensi diterapkan sistem yang memberlakukan jam belajar sehari penuh tersebut harus didukung dengan penambahan fasilitas di lingkup sekolah. Penambahan fasilitas umum di sekolah tersebut, rencananya akan menggunakan dana hibah untuk penguatan karakter. Namun demikian, kucuran dana tersebut tetap disesuaikan dengan kebutuhan dan masih diverifikasi.

Pada awal penerapan full day school tahun lalu, lanjutnya, sekolah-sekolah yang menjadi percontohan sebanyak 540 sekolah tersebut mendapatkan dana hibah murni. “Targetnya tahun 2019, seluruh sekolah negeri maupun swasta sudah menerapakan full day school tersebut,” katanya.

Sementara itu, dalam FGD tersebut Nasrullah mengemukakan ada empat program prioritas Kemendikbud yang bakal dituntaskan adalah meningkatkan pendidikan yang berkeadilan melalui Program Indonesia Pintar dengan Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang didistribusikan bagi 1,6 juta anak, termasuk di daerah terluar, terdepan dan teringgal (3D).

Prioritas kedua adalah penguatan pendidikan karakter, selanjutnya adalah meningkatkan tenaga kerja terampil melalui revitalisasi pendidikan kejuruan dan keterampilan. Untuk penguatan vokasi tersebut, ditaretkan ada 50 SMK Kelautan, 50 SMK Pariwisata, 100 SMK Pertanian, 220 Techmo Park, dan 1.540 SMK bekerja sama dengan industri.

Dan, prioritas keempat adalah literasi. “Indonesia terlambat empat tahun dalam bidang literasi ini. Contohnya, literasi yang saat ini digunakan kelas 12 (3 SMA) seharusnya digunakan siswa kelas 8 (2 SMP),” pungkasnya.(zuk)

Berikan tanggapan Anda

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here