Kafa Yaqi Ardafa dan Abdul Majid ini bukan santri biasa. Meski tinggal di Pondok Pesantren Darul Ulum Agung, Bumiayu, Kedungkandang, keduanya memiliki prestasi tak biasa. Mereka juara motocross pada Prakualifikasi PON di Serang, Jawa Barat, 14–15 September 2019.

ULFA AFRIANTI

Di hari-hari biasa, menjumpai M. Kafa Yaqi Ardafa dan Abdul Majid ini tidaklah sulit. Hampir setiap pukul 13.00–16.30, dia banyak berada di arena sirkuit motocross Kedungkandang. Di situlah keduanya banyak menghabiskan waktu usai sekolah di lingkungan pondok.

Bagi keduanya, melakukan motocross sudah jadi gaya hidupnya. Karena itu, di saat teman santri sebayanya usai sekolah tidur di kamar masing-masing, dia justru berlatih keras menunggangi motor trail kesayangannya.

Dia tak henti-hentinya mengasah kemampuan dan naluri balapnya. Apalagi keduanya sejak awal ingin menunjukkan pada orang tuanya jika hobi balap sejak kecil itu bisa menghasilkan prestasi nasional. Dan dia berhasil membuktikan itu.

Ketika ada kejuaraan Prakualifikasi PON di Jawa Barat, keduanya ikut di kategori beregu. Satu regu dua pembalap. Mereka berhasil mengungguli 18 regu lain dari seluruh Indonesia. Pada ajang itu, M. Kafa Yaqi Ardafa dan Abdul Majid mewakili Jatim.

Awalnya sempat grogi. Sebab, mereka membawa nama Jatim. Untungnya, motivasi dari orang-orang terdekat, terutama pengasuh pondok, membuat mereka termotivasi untuk juara begitu kuat.

Menurut M. Kafa, sebelum tampil di kejuaraan ini, mereka berlatih sangat keras. Setiap hari latihan mulai pukul 13.00–16.30. Usai latihan, dia tetap mengaji selepas salat Isya mengikuti kegiatan pondok yang diasuh KH Mujib Mustain itu.

Meski lelah, tapi menurut dia, semua itu terbayar lunas dengan hasil juara. Dia juga berhasil menepis anggapan jika santri bisanya hanya mengaji. Dari hasil itu, masing-masing mendapat hadiah Rp 4 juta. ”Bersyukur banget, orang tua mendukung penuh,” kata Kafa.

Dia mengaku bakat balap motocross ini mengalir dari darah bapaknya. Dia sudah belajar motorcross sejak kelas III SD.

Orang tuanya memang sempat melarang dirinya latihan motocross. Itu setelah pahanya robek selepas ikut lomba balapan di Kediri. ”Kemungkinan orang tua saya trauma, tapi saya tidak (trauma),” kenang dia sambil tersenyum.

Usai cedera itu, dia hanya istirahat total selama sebulan penuh.  Setelah itu lanjut latihan lagi dan ikut kejuaraan lagi. Pemuda kelahiran 2005 ini mengaku, selama menjalani hobinya itu, dia harus berkorban.

Salah satunya minimnya waktu istirahat. Karena pagi sekolah, siang sampai sore latihan motcross. Sementara pada malam hari harus mengaji. Begitu rutinitas hampir setiap hari. ”Tapi, gak sia-sia  orang tua beliin motor mahal,” ucapnya.

Bagi laki-laki 3 bersaudara ini, juara di prakualifikasi itu bukan satu-satunya prestasi. Sebelumnya sudah ada sederet gelar dia raih. Di antaranya, masuk lima besar ajang Banjar Patromax di Bandung.

Saat itu dia menunggangi motor trail 125 cc. Disusul juara I kejurda di Batu dengan motor 85 cc dan juara III di Semarang MX JP. Dalam setiap minggu, siswa kelas XI SMP ini selalu ikut ajang balap di berbagai kota.

Sementara Abdul Majid menjelaskan, dirinya menyukai dunia balap sejak kelas VI SD. Itu juga berkat dukungan ayahnya. Kini setelah sering juara, semua keluarga juga mendukung penuh. ”Meski capek, tapi senang karena saya yang mau, bukan karena paksaan,” ucapnya.

Selama menyandang status santri, dia beberapa kali sempat memenangkan kejuaraan pada 2018 lalu. Di Kejurnas Powertrack dan Supercross, dia meraih runner-up.

Dia menyebut, adu balap ini bukan menjadi cita-citanya untuk masa depan. Menurut dia, hobinya ini cukup untuk mengisi masa muda saja. ”Ini seperti menyalurkan kenakalan yang bisa menuai prestasi,” imbuhnya.

Sukses keduanya mendapat apresiasi dari pengasuh pondok pesantrennya, KH Mudjib Musta’in. Pria yang juga menjadi pengurus Ikatan Motor Indonesia (IMI) ini mengaku bangga terhadap kedua santrinya tersebut. Menurut dia, sukses mereka itu seakan dengan jargon pondoknya: ”Ngaji Oyi, Balap Oyi”.

Sejauh ini hobi mereka tidak berpengaruh terhadap nilai akademik. Mereka bisa membagi waktu dan tetap mengikuti kegiatan pondok sama seperti yang lain. Menurut dia, kemungkinan perbedaannya cuma pada waktu istirahat mereka. ”Karena sudah hobi, mereka rela menggunakan waktu istirahatnya untuk latihan rutin,” ungkapnya.

Pewarta : *
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Abdul Muntholib

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.